Aku-ALLAH-Kamu

“Jatuh cinta, berjuta rasanya...”

Hmm ya, memang berjuta rasanya kalau kita lagi jatuh cinta. Yang pahit bisa jadi manis, yang susah bisa terasa mudah, yang sakit bisa sehat dan yang keras bisa jadi lembut. Semua karena cinta.

Memang luas banget pembahasannya kalau bicara soal cinta. Karena cinta bukan cuma miliknya sepasang anak manusia; laki-laki dan perempuan. Cinta bisa dimiliki seorang hamba untuk Tuhannya, anak untuk orang tuanya, murid untuk gurunya dan sahabat untuk sahabatnya yang lain. Cinta bisa menjadi dan mendatangkan hal-hal baik kalau dalam pengaplikasiannya baik, begitu sebaliknya. Cinta mampu menghadirkan ketenangan, tetapi cinta juga bisa menjadi penyebab peperangan.

Kita bisa melakukan apa saja demi cinta. Hamba yang taat pada Tuhannya, anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, sahabat yang peduli pada sahabatnya yang lain dan sepasang kekasih yang saling menjaga. Tidak akan mungkin ada pengorbanan tanpa didasari cinta di dalamnya. Itu semua jika kita bicara cinta pada konteks yang positif. Bagaimana jika sebaliknya? Teman-teman pasti bisa menjawabnya sendiri :)

Belakangan ini lagi marak banget fenomena “nikah muda”. Fenomena ini makin menjadi-jadi setelah munculnya banyak motivator yang membahas dan menyajikan materi tentang pernikahan dengan sasaran utama anak-anak muda. Dan inilah salah satu faktor yang seringkali membuat anak-anak muda terjangkit virus ge a el a u alias GALAU!

Sebetulnya, apa sih definisi cinta itu sendiri? Kalau melansir dari salah satu sumber terpercaya, yaitu wikipedia, maka definisi Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi.

Dalam islam, penyaluran cinta terbaik bagi sepasang anak-cucu Adam satu-satunya adalah lewat jalur pernikahan. Hanya mereka yang benar-benar memegang teguh esensi sebuah perasaan yang dinamakan cinta yang berani mengambil keputusan untuk menikah. Tidak ada kata main-main di sini. Karena dalam proses menuju pernikahan banyak sekali bekal yang harus dipersiapkan. Dan yang paling utama pastilah tidak lain dan tidak bukan bekal ilmu agama yang memadai juga kemantapan hati untuk menyalurkan perasaan cinta melalui jalur yang halal.

Namun sayangnya, yang terjadi justru banyak pasangan yang memilih “pacaran” sebagai jalur pengaplikasian yang mengatas-namakan cinta. Mereka yang berada di jalur ini bisa dikatakan mereka yang beraninya sekedar “mengobral” cinta. Kenapa begitu? Kan pacaran bisa jadi tahapan untuk lebih mengenal satu sama lain supaya nantinya hanya dia yang benar-benar “pas” lah yang akan kita jadikan pasangan halal kita? yaa supaya gak nyesel karena gak salah pilih. Nah lho! Artinya pacaran itu ajang “coba-coba” ya guys. Ajang coba-coba untuk mereka yang sedikit nyalinya tapi banyak maunya. Gak mau rugi gitu lah =))

Padahal ketika kita sedang berdua-duaan dengan dia yang bukan mahrom kita, besar sekali kemungkinan untuk menghadirkan syaitan di tengah-tengahnya. 
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa sallam mengatakan "Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat (menyepi) dengan seorang wanita karena sesungguhnya Syaitan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua."
Pastinya kata-kata Rasul di atas ditujukan bagi mereka yang belum halal. Ya iyalah. Kalau udah halal mah, jangankan berdua-duaan. Saling pandang, berpegangan tangan bahkan hal yang lebih lainnya jadi nilai pahala. Apalagi jika keduanya terpaut atas nama cinta pada Rabbnya, Allah Subhanahu wa ta’ala. Subhanallaah :”)

Artinya ketika jalur yang diambil adalah pacaran, maka formasinya seperti ini : Aku-Syaitan-Kamu, namun jika jalur yang diambil adalah pernikahan, maka formasinya menjadi : Aku-ALLAH-Kamu. Terlihat jelas mana yang jalurnya akan penuh rahmat dan berkah? Dan mana yang hanya akan menimbulkan amarah(Nya)?

Udah lah, kalau memang udah terjadi apa yang seharusnya gak kita jalanin, cepet-cepet taubat. Putuskan dia atau Allah yang akan memutuskan rahmatNya di antara kalian. Pilih mana? Konversikan waktu-waktu terbaik kita untuk terus menata hati, menimba ilmu menuju cinta yang hakiki. Jadikan masa-masa kesendirian sebagai “bonus” dari ALLAH. Supaya kita bisa lebih matang, produktif dan betul-betul mengabdikan diri kita terutama untuk ALLAH dan kedua orang tua kita. Gimana? Akur? Kalau begitu, yuk sama-sama belajar, raih JannahNya dengan “menikah”. Kalau belum mampu, seperti yang ALLAH sudah sampaikan; Bersabar dan berpuasa lah hingga masa itu tiba. Gak usah ngoyo, jodoh yang tepat akan datang di waktu yang tepat kok. Wallahu’alam bishshawaab.. :’)

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar