Katakan dengan hati dan..... hati-hati :)

Beberapa hari belakangan saya "dihujani" curhatan dari sahabat-sahabat saya, para wanita shalihah tentang missed-communication mereka dengan orang tua, khususnya Ibu mereka. Ada nada menggebu-gebu menggambarkan kekecewaan dan kekurang-puasan mereka pada Ibu mereka. Sesaat saya terima sinyal itu, saya simpulkan "ada yang gak sejalan di sini". Ini semacam flashback untuk saya pribadi. Membuka lagi memori di kepala saya bahwa dulu saya pernah mengalami ini juga. Begitu, hmm tidak bisa dibilang buruk juga, tapi mungkin kurang baik. Antara saya dengan Ibu. Bukan karena sering bermasalah, tapi ada kondisi yang ketika suatu hal itu harus didiskusikan, sulit sekali menemukan titik terang.

Sifat saya yang keras dan Ibu saya yang begitu sensitif membuat kami akhirnya harus "perang dingin" ketika ada sesuatu yang semestinya didiskusikan, dibicarakan baik-baik. Ya, saya memang sering merasa "ah, gak ada gunanya. Pasti mama gak setuju". Saya orangnya mudah sekali meledak-ledak dan mudah men-cut sesuatu jika membuat diri saya tidak nyaman. Dan saat-saat harus berdiskusi dengan orang tua, khususnya Ibu itulah menjadi salah satu hal yang sering membuat saya tidak nyaman. Saya merasa orang tua saya sulit sekali memahami saya, sulit sekali sejalan dengan alur pemikiran saya, visi-misi juga impian saya. Saya lebih suka ketika saya harus berperan aktif di dunia luar, yang mereka (orang-orang yang saya kenal) dengan sangat terbuka mengapresiasi apa yang saya lakukan. Padahal, ketika saya menjalani apa-apa saja yang saya pilih, saya tahu, Ibu lah yang paling mendukung saya. Beliau yang pagi, siang, sore dan malamnya menghabiskan waktu untuk berdo'a, berharap Yang Maha Kuasa memberikan kesuksesan pada saya, anaknya..

Sampai satu ketika, ketika setahun lalu bisnis yang saya jalani mengalami kegagalan. Bisnis yang sudah membuat saya menghabiskan cukup banyak waktu, tenaga, juga pikiran. Bisnis yang begitu sempat saya perjuangkan habis-habisan dulu. Seperti kehilangan arah, saya kembali pada orang tua saya. Saya bicara pada Ibu bahwa saya ingin sekali membuka bisnis baru. Dan ya, sangat mudah ditebak. Bermodalkan kegagalan dan menipisnya kepercayaan, Ibu saya kurang mendukung niatan saya. Lagi-lagi saya merasa bahwa "mama gak dukung gue nih"..

Tanpa basa-basi Ibu meminta saya untuk bekerja. Beliau katakan, "kamu cari kerja. Untuk kamu. Untuk penuhi kebutuhan-kebutuhan kamu. Bukan buat mama atau papa. Gak perlu pikirin kita".. Seperti tamparan halus untuk saya. Allah Maha Baik, Maha Membolak-Balikkan Hati. Di saat saya begitu mengecewakannya, beliau masih sangat memprioritaskan saya. Allah... :( Dengan niat ingin mendapat ridho-Nya dan membayar utang saya atas kekecewaan yang saya yakin beliau sangat rasakan, saya niatkan untuk mencari kerja. Ya, luar biasanya Allah.. Saat bingung harus kerja apa, karena memang bukan passion saya untuk ngaryawan, seseorang menghubungi saya dan menawarkan pekerjaan. Tanpa pikir panjang saya pun men-iyakan tawarannya.

Sekarang, semuanya terasa saat ini. Saat saya harus jauh dari orang tua, kebaikan-kebaikan begitu mudah Allah datangkan pada saya. Sampai satu hari, seseorang yang baru beberapa minggu saya kenal bertanya "amalan apa yang udah kamu buat, Nduk?" belum sempat saya jawab ia kembali bicara "yang waktu itu anter kamu ayahmu, ya? Luar biasa. Begitu sayang orang tuamu sama kamu, Nduk. Kebaikan-kebaikan yang kamu dapatkan di sini pasti karena do'a beliau. Orang tuamu"

Saya terdiam..

Saya muhasabah diri sambil menangis kencang dalam hati... "Saya rindu orang tua saya... :"("

Orang tua. Ya, orang tua kita lah yang dalam diamnya, berdo'a untuk kita, anak-anaknya. Diam-diam, berdo'a dalam diam..

Saya gerakkan jari-jemari saya untuk mengirim pesan pada orang tua saya, saya tulis "Ma.. Pa.. Mama Papa do'ain eva apa? Banyak sekali kebaikan yang eva terima di sini. Terima kasih ya Ma, Pa.. Do'ain eva terus ya"

Malamnya Ibu menelepon saya "Va, kamu memang dapet apa? Mama sama papa do'ain.. selalu do'ain yang terbaik, supaya anak mama bisa berhasil, raih apa yang dicita-citakan" .. Saya membendung air mata haru saya dengan begitu kuat. Sesak sekali rasanya dada ini. Semua hal kurang berkenan yang pernah saya perbuat pada beliau seolah-olah datang menyerbu dan menghakimi saya yang terduduk lemas, diberondong tembakan berpelurukan cinta beliau.

Begitu lemah dan kurang pekanya saya terhadap kasih sayang orang tua saya. Padahal ridho-Nya akan deras mengalir jika orang tua kita ridho akan diri kita, perbuatan kita. Saya lupa bahwa saya bisa "menaklukkan" keduanya bukan dengan kuasa saya, tapi kuasa-Nya. Semoga Allah mengampuni saya.

Tak ada sedikitpun alasan bagi kita, seorang anak, untuk membantah kedua orang tua kita. Tak ada istilah orang tua tidak memahami anak-anaknya. Bagaimana bisa Ibu yang mengandung sembilan bulan sepuluh hari, melahirkan, menyusui, mendidik kita dengan dibantu oleh Ayah kita tidak memahami kita? Percaya deh, sesulit apapun keadaan kita, setelah Allah, orang tua lah yang akan kita ingat pertama kali. Benar kan? :)

Turunkan ego kita, emosi kita, lembutkan nada bicara kita dan minta pada-Nya untuk menuntun hati juga kata-kata kita saat akan berbicara dengan orang tua kita. Samakan frekuensi hati kita dengan orang tua kita. Minta pada-Nya, yang Maha Menguasai Hati manusia, termasuk hati orang tua kita. Bukan dengan kuasa kita, tapi kuasa-Nya.

Titip salam ya untuk orang tua mu. Ya, kamu yang membaca tulisan saya ini. Titip salam untuk dua malaikat hebat tak bersayap yang begitu luar biasa jasanya......padamu :)

sepasang malaikat tak bersayap ku :')

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar