Letakkan "SPION" Pada Tempatnya!

Assalamu'alaykum...
Hai hai haliiiiii... Eh, haloo! (--,)/

Apa kabar? Jogja lagi gak nentu nih cuacanya. Dari panas menyengat bisa tiba-tiba hujan deras. Mesti ekstra jaga kesehatan. Tempatmu gimana? Semoga Allah selalu memberi kalian nikmat sehat ya, juga pastinya nikmat iman yang luar biasa. Aamiin Allahumma Aamiin :)



Mau sedikit curcol boleh? Hehehe.. :p

Jadi ceritanya kemarin saya habis belajar ngendarain motor gitu deh. Hmm sebetulnya udah bisa, tapi matic. Nah kemarin coba belajar motor gigi, karena Alhamdulillaah baru aja dapet rezeki dititipin motor untuk mempermudah mobilitas di sini hehe (bukan pamer :p)

Sempet agak was-was dan ragu karena belajarnya pun sendiri. Ogah sebetulnya karena trauma. Dulu waktu pertama kali belajar naik motor sama abang, langsung pake motor kopling. Belajarnya di TMII, sekalian olahraga pagi ceritanya. Asyik aja muter-muter TMII, ngendarain motor nih. Bukan di belakang, tapi di depan sebagai pengemudi! :p Keliling-keliling, melewati kerumunan orang yang sedang lari pagi. sampai akhirnya konsentrasi agak buyar, motor kurang bisa saya kendalikan dan tiba-tiba lupa cara mengerem. Apa yang terjadi? Saya turunkan kedua kaki untuk memberhentikan motor, spontanitas sekali. Lalu yang terjadi? Ya gitu deh, nasib.. Kaki keseleo.. Karena gak kuat menahan motor yang memang sedang melaju agak cepat. Jadi ngerasa bodoh sendiri kalau inget haha

Modal nekat deh, Bismillaah saya coba lagi untuk belajar. Dibekali konsep-konsep cara mengendarai motor gigi, bagaimana menaik-turunkan gigi dan lain-lain. Alhamdulillaah, berhasil! Yeayy!! :D

Kebetulan motornya cuma punya satu spion sempurna, spion kiri tepatnya. Yang sebelah kanan kacanya hilang -,- teman-teman yang bisa mengendarai kendaraan; roda dua ataupun empat, pernah gak sih berpikir "Kenapa spion adanya di samping kiri dan kanan kendaraan kita? kenapa ia gak diletakkan di depan kita saja?" Ada yang bisa jawab?

Yap, pada dasarnya spion itu dirancang untuk memudahkan kita melihat kendaraan-kendaraan yang melaju tepat di belakang kita, membuat kita lebih berhati-hati, terutama ketika akan menyalip atau berbelok. Tapi itu hanya untuk sesekali. Fokus kita tetap lebih banyak ke depan, ke arah kita terus melaju dan menuju.

Kebayang gak kalau spion itu adanya di depan kita? Bukan di kiri-kanan? Alhasil, bukan kendaraan-kendaraan di belakang kita yang bisa kita pantau/perhatikan. Tapi diri kita sendiri. Kira-kira kalau seperti itu, akan selamat kah kita saat berkendara? Ya, mana mungkin. Kita sulit melihat apa yang ada di depan kita, pun sulit memantau apa yang ada di belakang kita.

spion memudahkan kita memantau kendaraan-kendaraan yang melaju di belakang kita
Hal itu mungkin sama perumpamaannya seperti orang yang selalu merasa dirinya adalah yang terbaik. Ia tidak melihat siapa yang ada di depannya, agar ia bisa mengambil ancang-ancang kemudian menyalip dengan baik dan siapa yang ada di belakangnya, agar bisa berhati-hati saat ada yang akan menyalip. Fokusnya hanya pada dirinya sendiri. Ia merasa aman dan begitu PD berjalan seperti itu, tanpa sadar ada bahaya yang menanti di depan dan belakangnya.

Ibarat pepatah, "seperti katak dalam tempurung".. Dirasanya ia lebih pintar, ia lebih baik dari yang lain. Padahal, di luar sana banyak sekali yang jauh lebih baik darinya dan kenyataannya? Ia tak ada apa-apanya. Akhirnya, orang seperti ini akan menampakkan diri yang sombong, besar kepala dan sulit menghargai orang lain. Bahaya bukan?

Pernah kah kita bertemu dengan seseorang yang bila dilihat dari penampilan luarnya saja ia seperti orang yang biasa-biasa saja? Lalu seketika kita membandingkannya dengan diri kita dan dalam hati mengambil kesimpulan bahwa diri kita lebih baik darinya, lalu kita menjadi sombong?

Kemudian pada kesempatan selanjutnya, kita kembali dipertemukan dengannya dan Allah menampakkan pada kita betapa luar biasanya ia dibalik penampilannya yang biasa bahkan terbilang pas-pasan? Pernah? Apa yang ada di hati dan pikiran kita? Malu? PASTI. Apalagi setelah itu, kita berbalik memujanya dan memperhitungkan keberadaannya. Wallahu a'lam...

Terlihat sepele, tapi sebenarnya krusial ya. Seperti ilmu padi, yang semakin berisi semakin merunduk. Memang semestinya seperti itulah perumpamaan orang yang mempunyai kapasitas besar dalam dirinya. Dan sebaliknya, seseorang yang biasa-biasa saja atau belum seberapa kapasitasnya, malah terlihat begitu mengeksklusifkan dirinya. Miris ya?

Seketika ada perasaan bahwa diri kita lebih baik dari orang lain, berhati-hatilah. Dia lah syaitan yang pertama kali membisikkannya ke hati kita. Dia yang dengan segala daya upayanya terus berusaha menjerumuskan kita. Makanya, ketika ada pujian mendarat pada diri yang hina ini, kita diajarkan untuk mengucap "Alhamdulillaah", segala puji bagi Allah. Karena memang hanya DIA yang layak mendapat pujian. DIA, bukan kita :)

Coba yuk kita cek lagi, sudah benar kah posisi "spion" itu? Kalau belum, segera letakkan SPION pada tempatnya!



Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar