Semua Hanya Soal Peran

Beberapa hari lalu saya berbincang dengan salah satu sahabat saya, Akbar. Entahlah, akhir-akhir ini frekuensi kami memang sedang kuat-kuatnya. Apa yang ada di pikiran kami berdua seringnya adalah perihal bahasan yang sama. Sampai kami putuskan untuk membungkus apik dalam sebuah diskusi ringan. Ditemani dua gelas air jahe, sekotak singkong keju dan sebatang cokelat, di salah satu meja di pelataran Perpustakaan Daerah. 
Banyak hal yang ingin kami urai saat itu. Tapi kami lebih memfokuskan untuk membahas beberapa saja, salah satunya perihal peranan kita bagi sekitar, teman dekat, keluarga, lingkungan. Kurang lebih seperti itu. 

Mungkin tanpa sadar kita tak mengerti atau bahkan tak tahu bahwa sebenarnya tiap-tiap kita diciptakan-Nya membawa peran tersendiri. Mengapa kita dipertemukan dengan si A, si B atau si C. Mengapa kita ada di lingkungan tertentu, atau mengapa kita diperjodohkan berhadapan dengan masalah yang tak terduga sebelumnya. Kami menyimpulkannya itu semua adalah peran. Peran yang harus kita lakoni sebaik-baiknya, hingga kita dipertemukan atau diamanahkan dengan peran yang lain. Persis seperti sinetron ya? Hmm.. dan bukankah dunia ini memang "panggung sandiwara" kalau katanya Teh Nicky Astria? :)

Adakalanya kita mempertanyakan mengapa kita harus ada di antara orang-orang, lingkungan, bahkan masalah yang tak pernah kita duga sebelumnya. Kita mempertanyakan mengapa sebagian orang yang kita kenal hanya "bertahan" sementara, namun ada juga yang langgeng atau ada begitu lama di dalam hidup kita.

Kita pun mempertanyakan mengapa terkadang kita diposisikan pada situasi yang begitu rumit, begitu sulit rasanya untuk dihadapi. Tanpa sadar, di saat yang sama sebetulnya kita sedang "diajarkan" untuk bisa menyelaraskan keadaan dengan apa yang kita punya, dengan apa yang ada di sekitar kita. Untuk akhirnya kita bisa mengambil hikmah dari kesemuanya. 

Apapun yang datang dan pergi pastinya sudah DIA atur sebaik-baiknya, sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Sesuai dengan peran yang seharusnya kita mainkan. Memang, bila hidup ini diibaratkan sebuah film dengan skenario terbaik, tidak lain dan tidak bukan Allah adalah produser sekaligus sutradaranya. Dan kita sendiri adalah pemeran utama bagi "film kehidupan" kita masing-masing. Dengan pemeran pembantu/pendukung serta figurannya adalah orang lain di luar diri kita. Yang satu sama lain pastinya punya porsi tersendiri.

Layaknya aktor dan aktris papan atas, kita berusaha untuk selalu bisa memainkan keperberanan kita sebagai pemain utama dengan sebaik-baiknya agar bisa mendapat kesempatan untuk "berlaga" dalam scene yang lebih menantang lainnya. Scene yang membutuhkan skill lebih luar biasa agar skenario yang diberikan bisa kita taklukkan.

Tak perlu banyak mempertanyakan "mengapa begini, mengapa begitu". Tak perlu banyak menawar ingin ada di situasi seperti apa dan di antara orang-orang yang bagaimana. Yaa anggap saja setiap harinya kita sedang "casting" untuk bisa diamanahkan peran-peran yang lain, yang bisa meningkatkan kualitas keberperanan kita dalam "film kehidupan" kita. Jalankan peran diri sebaik-baiknya karena kita semua adalah pemain utama bagi "film kehidupan" kita. Bukankah, sang sutradara dan produser yang lebih tahu kelayakan diri kita? Don't ever wants to be the same w/ others. Just be ourselves, our-best-selves, in the best version :)

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

2 komentar:

  1. setuju..pemikiran ini pernah saya bahas dengan sahabat saya kira kira dua tahun yang lalu. tiap kita punya peran untuk peran yang lain, entah itu hanya peran pembantu atau peran utama yang long lasting bareng seumur hidup kita. Allah itu Yang Maha Sutradara, sempurna skenarioNya ^_^

    BalasHapus
  2. Pemikiranmu ku bantu tuang lewat tulisan Mbak ^^

    BalasHapus