Stay away from stress and let's BE HAPPY!!





“Eva tuh suka minum obat ini kalau udah mulai sakit kepala”, samar-samar saya dengar Mbak Linda (sahabat saya di Jogja), memberitahukan perihal kebiasaan saya mengonsumsi salah satu obat pereda sakit kepala yang direkomendasikan oleh salah seorang dokter kenalan saya pada Mbak Muna (doi udah kayak kakak saya banget selama saya tinggal di Jogja) saat saya sedang terbaring lemah tak berdaya di dalam kamar (lebay dikit yak haha karena memang saat itu saya sedang kurang enak badan) kurang lebih setahun yang lalu.


Tak lama berapa lama, Mbak Muna masuk ke dalam kamar untuk sekadar mengecek kondisi saya, menanyakan perihal kebiasaan saya yang seringkali mengonsumsi obat pereda sakit kepala itu dan menanyakan apa sebab utama saya mudah sekali sakit kepala. Iapun mengajari saya sebuah metode untuk merelaksasi diri jika penyakit psikosomatis itu datang lagi tanpa saya undang. Namanya taping. Sebuah metode untuk mendeteksi bagian tubuh yang sakit dalam terapi SEFT, kemudian di-tap (mengetuk-ngetukkan salah satu jari tangan ke bagian tubuh yang bereaksi saat emosi kurang stabil itu muncul) sambil memberi sugesti-sugesti baik pada diri (lebih lengkapnya bisa gugling ya.. tanya siMbah apa itu SEFT)
Singkat cerita, saya menceritakan padanya bahwa saya adalah tipe orang yang mudah sekali stress, rentan drop saat ada di situasi yang rasanya saya begitu tertekan (underpressure) entah karena masalah pekerjaan atau konflik personal.

Dari situ saya tahu bahwa penyakit yang saya alami itu disebut dengan psikosomatis.

“Jangan-jangan sakitmu ini psikosomatis, Nduk..” Mbak Muna coba menjelaskan sekilas tentang apa itu psikosomatis.

Lebih dalam saya ketahui bahwa psikosomatis adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh kondisi mental atau emosi seseorang. Kamu pernah mengalaminya juga kah, guys? Dan memang, kalau dikaji lebih lanjut, semua penyakit (ringan sampai berat) ternyata tersebab oleh kondisi mental atau emosi seseorang. Pastinya sih emosi dalam artian negatif yaaaa, seperti halnya marah, sedih, stress dll. Selebihnya penyakit itu lebih karena pola hidup yang kurang sehat. Makan kurang teratur, kurang tidur, jarang olahraga dll (yang lagi-lagi kalau saya simpulkan sendiri juga karena kondisi emosi yang kurang baik) betul apa betul? Ya iyalah. Orang yang emosinya baik, stabil, pasti semuanya balance. Seimbang.

Kondisi terparah (sejauh ini, semoga itu yang terakhir dalam hidup saya), saya sempat mengalami depresi yang teramat kacau bagi saya pribadi. Saat itu saya yang merasa kesulitan mengatur jadwal pekerjaan (baiklah, ini karena saya kurang bisa memanage waktu juga diri), ditambah konflik dengan salah satu rekan kerja, sampai masalah hati (ya, saat itu saya baru saja memutuskan hubungan dengan seseorang yang saya anggap istimewa). Kalau ditanya rasanya, ehmmm entahlah. Mungkin ibarat naik roller coaster dengan kecepatan 1000Km/Jam sambil makan permen nano-nano :|
 
Saat itu saya bingung, sedih, kecewa, marah. Campur aduk lah. Makin parahnya lagi, atas semua kondisi itu saya benar-benar menyalahkan diri saya sendiri. Nggak semangat, putus asa, kayak gak punya harapan apa-apa lagi. Terkesan lebay mungkin. Tapi itulah adanya.

Sempat malas kemana-mana, nggak mau beraktivitas, komunikasi dan berhubungan dengan dunia luar pun rasanya enggan. Karena rasanya hanya akan menambah beban hati. Hati yang rasanya sudah semakin berat, penuh kekecewaan. Sampai akhirnya saya sadar kalau kondisi saya yang seperti itu hanya akan membuat saya semakin terpuruk. Semua beban harus saya buang, semua masalah harus saya uraikan. Saya butuh seseorang. Ya, saya butuh seseorang yang bisa menjadi pendengar saya, untuk sekadar meringankan semua yang saya rasakan.

Saya menghubungi salah satu sahabat, seorang lulusan psikologi (memang bukan psikolog, tapi saya rasa ia bisa memahami kondisi saya saat itu). Saya ceritakan apa saja yang menjadi beban saya saat itu. Walau secara teori saya tahu harus bagaimana, tapi rasanya bila ada “teman”, saya lebih terbantu untuk menerapi diri saya. Dan ya, sesuai dengan dugaan saya, saran yang ia berikan pun hampir sama seperti apa yang sudah pernah saya baca dan pelajari tentang psikosomatis atau penyakit yang bersumber dari emosi negatif. Semakin jelas bahwa saya sedang STRESS BERAT, karena keesokannya saya langsung ke dokter karena beberapa hari belakangan maag saya sangat mudah kambuh, pundak terasa sangat berat dan sakit, juga sakit kepala yang sering muncul.

Yang harus saya lakukan PERTAMA KALI adalah MENERIMA SEMUA KONDISI saya SAAT ITU. saya TIDAK BOLEH MENOLAKnya. TERIMA bahwa SEMUA ITU ADA. SEMUA ITU SUDAH TERJADI. Mudah? Tentu tidak hehe.. gile kali yaaaa udah serasa jatuh trus ketiban tangga, trus harus nganggep gak ada apa-apa? Nggak sakit? Jawab sendiri deh :P

Tapi karena saya HARUS MOVE ON, bahkan MOVE UP, pelan-pelan saya mulai menerima semuanya. Semua yang sudah terjadi. Terlanjur terjadi. Di saat seperti ini biasanya tubuh seperti memberi “alarm”. Ada bagian-bagian tertentu yang rasanya nyeri, sakit. Itupun harus kita terima juga J lalu emosi terasa semakin memuncak. Pingin marah, nangis. Nah kalau sudah begitu, luapin deh semuanya. Keluarin selega-leganya. Sampai PUAS!

Setelah merasa lebih baik, mulai bisa meng-ikhlaskan semuanya, perlahan-lahan MAAFKANLAH. Maafkan diri kita sendiri (yang dalam hal  ini berperan besar terhadap apa yang sedang terjadi). Maafkan orang-orang atau hal-hal yang menjadi pemeran pendukung dalam situasi itu. Perlu hati yang benar-benar ikhlas, bersih. Karena step ini memang tidaklah mudah. Tapi tidak mudah bukan berarti tidaj mungkin kan? *cheers*

Nah.. ini yang yang terakhir, STEP PUNCAK! Setelah kita sudah bisa MENERIMA, MEMAAFKAN, selanjutnya kita harus MENGIZINKAN diri kita untuk LEBIH BAIK atau LEBIH BAHAGIA saat ini juga. SAAT INI JUGA! Nggak pake ntar-ntar lagi. Nggak capek apa galau terus ya kaaaaaan? Hehe..

Well….. Segitu aja kali ya yang bisa saya share soal psikosomatis. Sengaja nyelipin curcolan, biar nyeritainnya bisa pake hati hahahaha

Tapi dari semuanya sih, kedekatakan diri kita sama ALLAH, Tuhan Yang Maha Segalanya, bisa jadi tolak ukur kondisi kita saat kapanpun. Semakin dekat kita dengan-Nya, semakin semuanya bisa dilewati dengan lebih enteng in syaa ALLAH^^ 

Alhamdulillah sampai sekarang saya terbilang SANGAT JARANG menyentuh yang namanya obat-obatan lagi *horeee* dan in syaa ALLAH juga sudah lebih mudah "melangkah" :)

Buat apa galau kalau cuma bikin kita terpuruk, makin cupu dan nggak produktif? Bismillah.. Stay away from stress and let's BE HAPPY!!



Note:
Postingan ini saya buat berdasarkan pengalaman (segi cerita maupun tips nya). Jadi, kalau ada yang mau nambahin atau punya masukan membangun, silakan share yaa. Thx u! :)

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar