Prepare for The Best, Ready for The Worst

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum..


Alhamdulillah, masih dalam suasana hari raya di bulan Syawal ini, saya pribadi dengan segenap hati yang masih tertatih-tatih mengharap ridho-Nya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436H. taqabbalallahu minna wa minkum, maaf lahir bathin ya sedulur^^




Siapa yang tak bahagia akan datangnya hari raya? Saya kira, semua umat muslim di seluruh jagad raya ini sangat menanti-nanti kedatangannya, meski berat juga rasanya ditinggalkan sang Ramadhan. Namun bagaimanapun juga, Idul Fitri merupakan fase baru untuk kembali membersihkan diri, menyucikan hati.. Bicara soal Idul Fitri atau biasa kita menyebutnya dengan lebaran (ada juga yang memplesetkannya dengan lebar-an hihi), tak lepas dari tradisi halal bihalal, saling bermaaf-maafan, mengunjungi satu sama lain guna bersilaturrahim, mempererat tali persaudaraan yang mungkin di luar dari momen ini sangat sulit dilakukan karena terkendala jarak,  waktu atau lain sebagainya.

Selain tradisi halal bihalal, lebaran juga rasanya (mungkin) kurang lengkap kalau tidak dihabiskan dengan berlibur bersama keluarga. Spending quality time bersama orang-orang tersayang, mumpung masih ada jatah libur cuti bersama bagi para pekerja kantoran hihi

Dan tulisan kali ini terinspirasi dari kisah super seru nan bikin pegel kakak-kakak saya yang juga memanfaatkan libur lebaran kali ini untuk jelong-jelong alias jalan-jalan :’D


Begini ceritanya………







Minggu lalu lalu A’Hendra (kakak saya nomor tiga) berencana mengajak keluarga kecilnya untuk berlibur ke salah satu tempat wisata yang cukup populer di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung; Kawah Putih.

Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 8-22°C. Di puncak Gunung Patuha itulah terdapat Kawah Saat, saat berarti surut dalam Bahasa Sunda, yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih dengan ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada sekitar abad X dan XII silam.Kawah Putih ini terletak sekitar 46 km dari Kota Bandung atau 35 km dari ibukota Kabupaten Bandung, Soreang, menuju Ciwidey ( sumber: https://ariesaksono.wordpress.com/2008/03/10/kawah-putih-ciwidey-bandung-selatan/ )

Dia bersama istri dan dua anaknya (usia 9bulan dan 5 tahun). Karena space mobil yang akan dibawa masih cukup untuk tiga orang lagi,  maka dari itu dia juga mengajak serta kakak saya yang nomor empat bersama istri dan satu orang anaknya yang baru berusia 1,5 tahun, juga satu keponakan saya dari kakak pertama. Saya? Di rumah saja hiks..

Ternyata kakak saya sudah janjian juga dengan Om saya yang tinggal di Karawang untuk konvoi. Sepakat untuk bertemu di rest area KM sekian, rencana jalan-jalan (yang awalnya begitu menyenangkan) pun tinggal menunggu dieksekusi hihi.. Melepaskan penat dengan melihat pemandangan Kawah Putih yang super ajaib dan masya Allah, berbelanja panganan khas sana, yaitu berbagai olahan buah strawberry, dan tak ketinggalan: foto selfie sukaesihhhh!

Minggu pagi, selepas Shubuh, di rumah sudah sibuk dengan aktivitas persiapan untuk liburan (fyi, kakak nomor empat saya tinggal bersama saya dan orang tua sedangkan kakak nomor tiga rumahnya di depan rumah orang tua kami hahaa) jadinya sibuk-sibuknya ya tetap di rumah orang tua. Dari persiapan bekal makanan untuk di perjalanan, sampai kebutuhan para bayi yang super banyak kalau mau bepergian. Sedangkan orang-orang besarnya (halah), cukup dengan mempersiapkan diri tanpa membawa pakaian ganti karena perjalanan berlibur kali itu akan tektok (pergi pulang) saja, tidak menginap.

Sekitar pukul tujuh pagi, mereka pun bergerak. Berangkat menuju Ciwidey dari Jakarta, dgn bertemu Om saya dulu di KM sekian daerah Karawang.  Persiapan cukup matang, rute menuju tempat wisata sudah dikantongi.

Nyata nya, manusia memang hanya bisa berencana, jalan-jalan arus mudik lah yang menjadi penentu. Hehehe.. Di hari ketiga lebaran itu, masih banyak orang yang baru akan mudik. Perjalanan menuju lokasi wisata yang diperkirakan hanya sekitar empat jam, ternyata harus molor karena kondisi jalan yang cukup macet. Ibu saya yang memang memiliki tingkat kekhawatiran cukup tinggi, ndak bosan-bosannya mengecek posisi mereka, para rombongan liburan.

“Udah sampe mana?”

Kakak saya pun melaporkan bahwa  sampai pukul tiga sore mereka masih terjebak di jalan masuk menuju lokasi wisata yang ternyata sangat ramai pengunjung. Kemacetan berkilo-kilo meter pun harus sabar mereka hadapi. Semangat yaw! :D
Saya yang hari itu hanya bersantai di rumah, sesekali iseng mengecek recent update di aplikasi BBM dan melihat status salah satu kakak saya yang kira-kira, begini “@....Hotel. nggak tembus! (emote ROTFL), bermalam di Bandung”.

Ajegile, mau ke Bandung aja kayak perjalanan Jakarta-Jogja by kereta api hiiii.. Ndak kebayang deh gimana suntuknya :’D, batin saya.

Singkat cerita, mereka bermalam di salah satu penginapan dekat pintu masuk Kawah Putih dan melanjutkan perjalanan keesokan pagi. Benar saja, keesokan paginya langsung mereka bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan dan berhasil masuk kawasan wisata sebelum matahari naik. Horeee! Tapi tahukah, berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk berjalan-jalan di Kawah Putih? Satu sampai dua jam? Sampai puas? Tidak! Mereka hanya sekitar TIGA PULUH menit berada di kawasan Kawah Putih dan melanjutkannya dengan mencari oleh-oleh di sekitaran objek wisata.

Setelah dirasa cukup, mereka pun bersiap untuk kembali ke Jakarta. tapi apa mau dikata, arus balik sama crowd nya dengan arus mudik yang mereka temui. Wohh! Hingga pukul 22.30 mereka masih terjebak di tol menuju Karawang. Akhirnya karena lelah, punggung sudah entah bagaimana rasanya, mereka akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Om, di Karawang, dan kembali ke Jakarta esok pagi.

Alhamdulillah kakak-kakak saya sampai di rumah lagi sekitar pukul sebelas siang, hari Selasa,  dengan wajah yang lusuh dan masih dengan pakaian yang sama seperti saat mereka berangkat pffttt :’D


Well..
Guys, dari cerita tersebut pada kenyataannya kita seringkali mengalami hal seperti itu, bukan? Ketika kita ingin menuju atau mencapai sesuatu, dengan modal persiapan yang sudah begitu matang bahkan mungkin bisa dibilang sempurna, namun dalam perjalanannya kita seringkali menghadapi sesuatu yang upredictable, tak terduga. Yang mau tidak mau harus kita hadapi. Karena jika tidak, ya sudah.. Ucapkan “selamat tinggal” saja pada apa yang ingin kita tuju.

Sesuatu yang tak terduga itu bisa kita sebut sebagai ujian. Dan dalam sebuah perjalanan, perjuangan, kita tak kan pernah lepas dari yang namanya ujian. Ujian hadir sebagai pemanis, ujian hadir sebagai ketahanan diri. Sekuat apa tekad kita untuk mencapai tujuan kita? Selamanya ia akan ada. Tugas kita? tak lain dan tak bukan adalah menghadapi dan memenangkannya! Tidak bisa tidak.. Prepare for The Best, Ready for The Worst :)


Semangat mencapai tujuan-tujuan kita ya! Ingat saja bahwa setelah kesulitan pasti akan ada kemudahan. Dan bukankah Allah, Tuhan kita, tak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuan? ^^ Ganbatte nee!!

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar