Ustadz, Saya Mau Tanya...


Satu jam menuju bel pulang sekolah, kami—saya, teman saya dan Ustadz pimpinan yayasan berkesempatan untuk duduk satu meja dan ngobrol santai. Karena pekerjaan sedang tak banyak, saya manfaatkan momen itu untuk sekadar mencuri ilmu sang Ustadz. Mendengarkan wejangan-wejangan ringan namun penuh makna yang disampaikan dengan begitu sederhana sekaligus renyah, karena diselingi guyonan-guyonan oleh beliau.


Sejak pertama saya bergabung di yayasan pondok pesantren ini—diamanahkan untuk duduk di kursi Tata Usaha, beberapa kali Ustadz menanyakan perihal kesiapan saya menikah dan siapa calon saya. Ya, yang seringnya hanya saya jawab dengan tertawa kecil atau “In syaa Allah”. Walhasil, setiap kali ada ikhwan yang mampir ke kantor saya akan kena tembakan Ustadz dengan, “Bu Eva, dia nih single lho.. hafidz lhoo.. dan lho lho lainnya”


Hingga sore itu, saya tergerak untuk melemparkan sebuah pertanyaan pada beliau…



Ustadz, petunjuk istikharah itu gimana sih?




Ustadz membenarkan posisi duduknya, menjadi jauh lebih santai, namun tetap siap dengan jawaban penuh keyakinannya.


“Jadi gini.. perihal istikharah pada dasarnya hati kita harus netral dulu. Kebanyakan orang istikharah—entah untuk perihal memilih sesuatu, atau jodoh, hatinya udah cenderung duluan. Yang akhirnya jadi nggak netral. Petunjuk istikharah nggak mesti lewat mimpi lho. Petunjuk istiharah lebih ke arah hati kita akan merasa lebih ada kecenderungan. Kalau mimpi, bisa jadi karena sebelumnya udah cenderung duluan yang jatuhnya timbul nafsu dan kebawa mimpi. Makanya, lebih baik minta pendapat ulama atau orang yang ahli ibadah untuk ikut mengambil keputusan. Karena jelas, dia akan lebih netral dari kita. “


"Belum apa-apa udah jleb nih", batin saya.



Ustadz pun melanjutkan, “Taro lah kita bicara soal jodoh. Saya sama istri saya gak pake ketemu, dikenalin langsung nikah. Tapi Alhamdulillah sampai sekarang bisa dibilang gak ada tu ribut-ribut. Karena apa? Karena pegangan saya agama. Saat saya marah, dia berusaha menurunkan egonya. Begitu juga sebaliknya. Jadi bu Eva, carilah seseorang karena agamanya. Karena pasti selamat. Ketika agama udah masuk, in syaa Allah akan mulus semuanya. Lihatlah Umar bin Khatab. Bagaimana garangnya beliau? Tapi ketika dimasukkan agama, lembutnya seperti apa? Lihat Ustman, bagaimana kayanya beliau? Tapi apa? Ketika dimasukkan agama, beliau gunakan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Lihat juga Ali.. tapi yang namanya iman, dia gak boleh lepas dengan amal sholeh. Cuma beriman, tapi amalnya (perbuatannya) nggak sholeh, buat apa? Nanti bu Eva akan nemuin pilihannya cuma dua; sholeh dan kaya, atau sholeh dan pintar. Karena itu sepaket. Carilah yang karena agamanya lebih dulu. Biar selamat. Jadikan rumah tangga sebagai madrasah. Untuk suami, istri juga anak-anak. Dan kalau pingin jodoh yang sholeh, baikkin dulu diri kita. cara termudahnya yaa, bakti penuh sama orang tua. Bikin seneng hati orang tua.”



Jleb, glek, dorr!!!!!



Diskusi yang tak sampai lima belas menit, yang menjabarkan tentang istikharah itu pun berakhir. Ustadz melanjutkan dengan membahas beberapa hadits (yang sampai sini fokus saya tau tau hilang) hihi mungkin karena cukup ketampar dengan jawaban Ustadz perihal istikharah *grin*


Yang akhirnya, saya pun semakin sadar. Bahwa bagaimana bisa kita mendapat hidayah atau petunjuk jika ada selain Allah yang berkuasa di hati kita? Bagaimana bisa petunjuk hadir ke hati yang tak bersih (netral), dengan penyerahan diri total pada Sang Maha Pemilik Kehidupan? Ahh, selalu ada cara bagi Allah untuk terus mengingatkan kita, agar tidak terjerumus lebih jauh lagi, lewat siapapun atau apapun yang ada di sekitar kita. wallahu ‘alam bishshawaab ^^









Nb: jawaban yang Ustadz beri sudah melalui sedikit improvisasi dari saya, tanpa mengurangi esensi nya, in syaa Allah :’)

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar