Jangan Lupa Berdo'a Agar Tak Lupa Berdo'a


Saya percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa selembar daun yang jatuh pun telah tertulis dalam takdir-Nya, dalam ketetapan-Nya.



Seperti halnya yang sudah dua atau tiga atau entah berapa kali saya mendapat sebuah broadcast message tentang sikap seorang hamba yang sedang ditimpa masalah (yang kemudian menjadi sebuah ide bagi saya untuk berbagi lewat tulisan dalam blog ini).


Seringnya, sebagian dari kita—bisa jadi saya sendiri, lebih sering memusingkannya atau bahkan hanya berkoar-koar dari satu teman ke teman lain, dari update status di media sosial satu ke media sosial lain. Tanpa sempat teringat (atau bisa jadi lalai) untuk melakukan satu jurus terampuh, yaitu: berdo’a.


Tidak heran jika Allah menjadikan do’a sebagai senjata paling mutakhir bagi kita sebagai seorang muslim, karena do’a adalah sarana kita untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan ternyata berdo’a termasuk dalam nikmat yang Allah beri kepada kita namun mungkin kurang kita sadari.


Kenapa bisa seperti itu?



Pernah kah kita berada dalam satu kondisi yang kita rasa rumit, menghimpit bahkan terasa sudah sangat terjepit? Tetapi sayangnya kita seperti tak punya kuasa dan bingung ingin berdo’a seperti apa atau meminta yang bagaimana? Pernah kah? Sudah barang tentu rasanya seperti tak punya pegangan dan hilang arah. Benar bukan?


Seolah seperti diingatkan dan menjadi catatan berarti bagi saya ketika sedang iseng membuka-buka recent updates di aplikasi BBM, salah seorang teman di kontak saya menulis “Jangan lupa berdo’a, agar tak lupa berdo’a” di status updatenya yang sejurus kemudian langsung saya tweet (tanpa terlupa menyisipkan nama si empunya status) karena yaaa entahlah. Saya hanya manggut-manggut dan meng-aamiin-kan dalam hati perihal apa yang saya baca dari apa yang beliau tuliskan itu.


Begitu pentingkah berdo’a? Akan tetapi, betapa kadang kita sebagai manusia, terlalu asyik berkutat dengan dunia dan segala problematika yang tersebab karenanya hingga rasanya ritual yang begitu sakral yang kita sebut dengan berdo’a menjadi hal yang kemudian kita kesampingkan. Subhanallaah


Maha Baik Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah. Ia menjadikan berdo’a (yang dalam hal ini padahal kita diberi keleluasaan untuk bisa meminta apa saja—yang pasti Ia kabulkan dan untuk memenuhi keinginan-keinginan kita) sebagai sebuah nikmat.


Maka, menjadi catatan diri bagi saya (dan semoga) juga untuk sahabat-sahabat tercinta yang membaca tulisan ini agar bisa menjadikan aktivitas berdo’a sebagai aktivitas bernilai mahal dalam hidup kita, yang rasanya sayang jika kita lewatkan. Yang rasanya sayang jika tak kita lakukan sepenuh hati juga jiwa.


Saya yakin, kalau kita diminta untuk menghitung nikmat dan do’a yang terjawab atas kemurah-hatian Allah Sebagai Sang Maha, tak akan ada satupun dari kita yang mampu melakukannya. Pun, seberapa sering kita mendapat kekuatan yang datang secara ajaib sesaat setelah berdo’a?













Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? C:

"Jangan lupa berdo'a agar tak lupa berdo'a" -Dodo Abdullah

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar