Secuil Hikmah dari Sebuah Kata Sederhana; ISTIQOMAH.

Assalamu’alaykum ya akhi ya ukhti—
Sudah cukup lama juga ya ternyata saya nggak menyapa hangat lewat tulisan di rumah saya ini? Baiklah, kali ini izinkan saya yang fakir ilmu ini untuk sedikit mengajak teman-teman sekalian untuk berbincang santai. Bagaimana? ^^


Sebelumnya, bolehkah saya bertanya?

Apa yang bisa teman-teman jabarkan kalau saya melemparkan sebuah kata sederhana—yang mungkin sudah sangat familiar di telinga kita, yaitu “Istiqomah”?

Tunggu, nggak perlu buru-buru. Relax, tenang, santai.. Jawablah dengan jawaban terluhur yang datangnya dari hati bukan nafsu


-------------lima menit kemudian-------------


Okay, bagaimana? Sudah?


Jadi, apa itu Istiqomah?


Kalau menurut hemat saya, istiqomah adalah melakukan suatu perbuatan (dalam hal ini hanya yang baik-baik saja ya) secara rutin, terus menerus dan tanpa putus. Terjaga semangatnya, tak berkurang kualitasnya dan tak pudar rasanya.


Ya, itulah penjabaran istiqomah yang dapat saya berikan. Terlepas dari pengertian aslinya yang secara istilah atau Bahasa.


Mmm.. Suatu pekerjaan yang mudah kah? I don’t think so hehehe


Amat wajar bila pada akhirnya ada istilah seperti ini, “Istiqomah itu nggak mudah karena balasannya Surga. Kalau mudah mungkin cuma dapat kipas angin”


Mengapa bisa menjadi tidak mudah? Well, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin lho yaaa.. Menjadi tidak mudah karena lawan yang kita hadapi agar kita bisa bertahan dalam usaha kita untuk tetap Istiqomah  adalah diri kita sendiri yang diback-up oleh hawa nafsu! Haha cukup berat bukan?


Saya sendiri pernah (atau jangan-jangan saat ini pun masih hehe) berjuang begitu keras dengan sepenuh jiwa raga sampai termehek mehek demi bisa istiqomah. Seperti halnya ketika saya ingin sekali bisa mempertahankan amalan-amalan Sunnah saya (saya pernah diberi tau bahwa jika diibaratkan, amalan Sunnah itu seperti sepasang sayap yang mampu membantu mengangkat amalan-amalan wajib kita ke Arsy’-Nya, dan jika kita mampu menjaga amalan ini sudah tentu Allah akan kasih deh tuh yang namanya akselerasi atau percepatan atas hajat-hajat kita)


Saking gencarnya, di awal saya tahu hal tersebut langsung saya borong semua amalan Sunnah yang sekiranya bisa saya kerjakan. Mulai dari bangun malam untuk qiyamul lail, shalat dhuha 12 rakaat, tilawah satu hari satu juz, shalat sunnah rawatib di hampir setiap lima waktu shalat bahkan sampai puasa Dawud. Itu saya lakukan terus menerus hingga seperti menjadi rutinitas dan akan menjadi kurang lengkap hari saya bila salah satunya terlewatkan.


Tapi teman-teman tahu, apa yang kemudian terjadi?



Tiga bulan awal saya gelisah. Saya seperti orang bingung yang kalau boleh dikatakan “ini gue ngapain sih? Apa yang lagi gue kejar sampai sebegininya?”


Haha.. Parah bukan?


Lha yo yang namanya orang ngejaga ibadah ya untuk bisa lebih dekat dan disayang sama Allah. Ini kok malah bingung untuk apa. Jelas ada yang salah kan? Ckck  


Tapi yaa itulah yang terjadi. Sampai akhirnya saya curhat ke Mbak saya (seseorang yang sudah saya anggap seperti kakak sendiri)


Dan beliau pun menanggapinya dengan mengatakan kurang lebih begini, “Kamu ini stress. Kamu memaksa dirimu sendiri untuk ibadah, nggak pakai bertahap tapi langsung bregg. Ibadah itu bagusnya sedikit demi sedikit terus diistiqomahkan. Baru deh tambahin lagi yang lainnya. Bukan langsung ngeborong semuanya trus kamu jadi kayak robot akhirnya”


Kayak robot?


Ngg… Langsung deh mikir. Iya, dari kemarin-kemarin sebelumnya kayaknya nggak pake mikir. Langsung tancap gass gitu aja terus nabrak deh.



Iya ya. Saya baru sadar ternyata saya sudah seperti robot. Melakukan sesuatu tanpa mengikut-sertakan hati di dalamnya. Ternyata saya terjebak dalam istiqomah versi saya yang terdahulu. Yang saya lakukan saat itu rutin sih, terus menerus sih. Akan tetapi semangat, kualitas dan rasanya? Mungkin jika digambarkan dalam sebuah diagram garis, ia akan menjadi sebuah garis yang menukik tajam tanda semakin lemah *tear*


Padahal, batu yang sangat besar lagi keras saja hanya akan berlubang jika diberi tetesan air terus menerus. Bukan diguyur air yang meski se-sumur tapi hanya sekali. Itulah kekuatan Istiqomah :’)


Bismillah, Bismillah, Bismillah.. yuk sama-sama niatkan, hujamkan dalam hati. Istiqomah karena Allah dan untuk Allah. Semoga ada amalan sederhana namun istiqomah kita yang bisa menjadi penyelamat di Yaumul Hisab kelak. May I get the best “aamiin”? AAMIIIIIIIN!






Yuk istiqomah! Nggak mau kan kalau cuma dapet kipas angin? :D

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar