ia Begitu Dekat




Dua menit menuju pukul sebelas malam. Belum habis tayangan favorit di malam Senin saya—Mario Teguh Super Show, diri ini masih terjaga. Sebenarnya tubuh sudah meraung untuk diberikan haknya beristirahat, namun isi kepala rasanya mendesak untuk bisa dibebaskan. Sudah cukup lama ia terpenjara rupanya.



Saya meraih netbook saya yang memang sedang berada di dekat saya, menekan tombol power dan bersiap untuk menarikan jari jemari saya di atas keyboard. Bacaan basmalah tak lupa saya ucapkan, agar apa yang saya tulis senantiasa mendapat ridho-Nya. Punya makna, tidak sia-sia.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya gelontorkan dari kepala saya, namun hari ini ada satu pelajaran yang begitu berharga (setidaknya bagi saya). Belum mengering rasanya ingatan di memori saya, saat sekitar tiga minggu lalu tante saya meninggal dunia karena sakit yang cukup lama dideritanya. Allah memanggilnya kembali ke keharibaan-Nya tepat di hari keenamnya dirawat di rumah sakit, setelah sebelumnya bersikeras ingin tetap rawat jalan saja.


Hari ini, sore tadi, selepas dari klinik untuk memeriksakan alergi kulit yang beberapa minggu terakhir mengganggu, saya melihat kerumunan orang tak jauh setelah saya menyebrang jalan untuk mencari angkutan umum—di daerah Jatiwaringin.  Batin saya langsung menerka, “kayaknya ada kecelakaan nih”.


Namun tak seperti yang saya bayangkan. Kecelakaan yang lebih sering saya temui hanyalan kecelakaan antar dua kendaraan bermotor yang saling bersinggungan, dan salah satunya jatuh, kemudian diamankan ke tepi jalan untuk ditenangkan.


Saya tetap berjalan santai.


Hingga saat langkah kaki ini semakin mendekati kerumunan, samar-samar saya melihat seseorang tengah tergeletak di pinggir jalan (dibawa oleh warga sekitar) dengan darah segar bersimbah dan dada sampai kepala ditutupi oleh dua lembar koran.


Sontak saya menelan ludah. Innalillaahi wa inna ilaihi raajiun. Ada korban jiwa. Belum tahu pasti apa sebab musabab dari kecelakaan tersebut terjadi. Saya memilih untuk tidak mencari tahu dan terus berjalan. Astaghfirullah….


Seorang laki-laki yang saya perkirakan seumur saya tergeletak tak berdaya. Menjumpai ajalnya beberapa menit lalu, di jalan raya (yang akhirnya saya ketahui bahwa ia meninggal tertabrak truk). Ya Allah.. Tak kuasa hati saya untuk kemudian berdzikir. Mengingat kebesaran-Nya.


Tetiba rasa takut menghampiri. Takut mati? Ahh, bukankah DIA sudah mengatakan bahwa, “semua yang bernyawa PASTI akan mati”? Rasa takut ini terasa lain. Hati-pun terus mencari jawaban atas rasa takut dan kegelisahan hati yang super hebat sepanjang perjalanan saya mencari angkutan umum.


Sampai akhirnya saya sadar. Saya bukan takut oleh kematian. Karena cepat atau lebih cepat ia pasti datang. Akan tetapi saya takut, saya takut dengan cara apa—bagaimana ia datang. Sudah siapkah saya saat ia benar-benar menjemput? Sudah cukupkah bekal yang saya kumpulkan untuk menghadap-Nya?


Salah satu dari sepuluh nasihat Ibrahim bin Adham “Qultum annal mawta haq wa lam tasta’iddu lahu”. Kamu bilang mati itu pasti, tetapi tidak persiapkan dirimu menghadapinya.


Karena sungguh, syarat mati itu tidak harus tua. Tidak harus sakit. Dan tidak harus siap. Siap atau tidak, mati itu pasti. Ia adalah salah satu takdir-Nya yang tidak bisa diubah.


Allahu… Bagaimanakah keadaan saya jika saya harus mati nanti? Apakah yang sedang saya lakukan? Beribadah, mengingat-Nya dengan begitu syahdu—ataukah saya sedang melakukan sesuatu yang tidak Allah sukai? Subhanallah..


Apa yang saya harus lakukan? Sungguh, iman yang baiklah yang akan membawa kita pada kematian yang indah. Karena sungguh, kematian adalah satu-satunya jalan untuk kita bisa memandang wajah indah-Nya. Akan tetapi, iman itu fleksibel. Bisa naik turun. Tergantung bagaimana kita bisa menjaganya tetap di posisi tertinggi. Memenangkan segala ego dan nafsu dalam diri.


Semoga dan semoga yang bisa saya panjatkan. Agar IA, sang MAHA, memampukan diri ini untuk senantiasa memiliki iman yang baik. Melakukan yang terbaik. Menyiapkan yang terbaik. Karena sadar atau tidak, ia begitu dekat. Kematian itu dekat.


Mari kita mohonkan do’a untuk para leluhur yang telah lebih dulu menghadap-Nya, untuk semua kerabat, teman yang kita kenal dan sudah lebih dulu mendapati ajalnya, juga untuk almarhum—lelaki korban kecelakaan yang tadi saya temui mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Al-faatihah….


Terkhusus untuk kita, yang masih DIA beri kesempatan untuk terus membenahi diri. Cukuplah DIA sebagai alasan kita untuk hidup, untuk berjuang, untuk berjasa bagi sesama. Sungguh, DIA lah sebenar-benarnya tempat kembali.


Allahu a’lam..


Selamat beristirahat, semoga Allah berkenan untuk senantiasa menuntun kita berada di jalan-Nya. Jalan ketaqwaan.


Aamiin, Allahumma aamiin..


------
Minggu, 28 Februari 2016 pukul 23.51
dari diri yang fakir akan Rahman Rahim-Nya

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar