Membenahi Hati = Merenovasi Rumah Tinggal

Jika hati bisa diibaratkan dengan sesuatu yang tampak nyata dan mampu dirasakan keberadaannya, bagi saya ia adalah sebuah rumah. Tempat yang di dalamnya menyimpan banyak kisah, penuh kehangatan dan hanya yang nyaman lah yang bisa membuat seseorang tetap tinggal.

Well..
how are you doing, fellas

Gimana nih puasa di hari keduabelasnya? Mudah-mudahan tetap semangat dan Allah beri kelancaran sampai di penghujung Ramadhan ya :)

Satu jam menuju jam berbuka pulang kantor

I have nothing to do. Kerjaan hari ini Alhamdulillah sudah beres dan asyiknya sih ngabuburit gitu ya biar kayak orang-orang. Dan yeaaah! Nulis blog sepertinya bisa jadi ngabuburit yang cukup ampuh buat saya sekarang ini.

Ada yang bilang kalau melakukan perbaikan diri ada baiknya kita membenahi hati terlebih dahulu. Layaknya alasan para sahabat muslimah yang ketika ditanya "kenapa kamu belum mau berhijab?"

Ya! Sejurus kemudian ia biasanya akan menjawab jawaban template, "aku mau hijabin hati dulu sebelum hijabin kepala". Tapi semoga sahabat muslimah yang baca blog saya mah nggak gitu kan yaaaa..^^

Well, bukan itu yang sebenarnya mau saya bahas kali ini, walau masih ada hubungannya kok!

So.. Semalam waktu saya sedang bersantai di rumah, merebahkan diri di atas kasur lantai yang tergelar di depan televisi, saya memandangi langit-langit ruangan dan beberapa sudut rumah yang masih mampu saya tangkap lewat penglihatan yang mulai sendu karena kantuk.

Memundurkan waktu ke sekitar lima tahun silam, saat rumah saya baru selesai direnovasi. Rumah yang sudah berdiri sejak tahun 70-an itu akhirnya mengalami perubahan wajah. Menjadi lebih nyaman tentunya, dengan perombakan di sana sini dan penambahan beberapa ruang.


Bagi yang pernah merasakan, kalian pasti paham betul bagaimana rasanya tinggal di dalam rumah yang sedang mengalami renovasi. Sangat amat tidak nyaman. Harus rela terganggu karena debu di mana-mana, barang-barang yang tidak berada di tempat yang seharusnya, angkat dan angkut ini itu supaya pengerjaan bisa lebih mudah, ngungsi mandi atau cari makan karena mau masak pun pasti jadi nggak higienis karena debu. Itu semua belum termasuk repotnya membersihkan sisa-sisa pengerjaan renovasi saat hari mulai gelap. 

Sama seperti halnya ketika kita yang sedang dalam proses membenahi hati. Kita harus rela menghadapi debu-debu yang mengganggu. Segala hal yang masih menghantui sehingga menjadi beban dan sulit untuk melangkah menjadi lebih baik. Entah itu berupa kenangan kurang menyenangkan yang pernah kita rasakan di masa lalu, perasaan-perasaan salah alamat yang masih belum sepenuhnya mampu kita hapuskan. Atau mungkin sikap-sikap tak elok yang secara sadar ataupun khilaf pernah kita lakukan.

Kita pasti ingin membenahi itu semua, bukan? Kita ingin agar hati kita bisa lebih nyaman, bersih dan mampu menciptakan kehangatan, bukan?

Bermula dengan menyiapkan design terbaik lalu kita mulai merombak, membenahi semua agar sesuai pada tempatnya, membersihkan dan kemudian menatanya kembali. Ada proses berdarah-darah. Ada kekacauan untuk membuatnya kembali rapi tertata. Rasanya memang tidak mudah dan (pasti) ada saja yang membuat goyah. 

But its okay. Selama niat kita kuat, segala hal yang datang untuk membuat goyah itu bisa jadi salah satu sign atau tanda. Tanda bahwa apa yang sedang kita lalui itu bekerja. It works! Sebab tantangan hanya akan hadir pada ia yang sedang berjuang untuk sesuatu yang besar. 

Karena risk = rizq

Got the point? :)

Tetap semangat membenahi hati yuk dear.. Sebab segala hal baik dan besar hanya akan datang ketika kita siap, ketika kita pantas. Layaknya hendak menjamu tamu besar, kita tidak ingin rumah kita tampak biasa-biasa saja, bukan?







Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar