Aku Lebih Takut Jika…

Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Wa Lillaahil-hamd

Gema takbir Idul Fitri rasanya masih begitu dekat bergema. Nyaring dan syahdunya masih mengalun di telinga hingga ke relung hati

Santapan khas lebaran;  Ketupat sayur lengkap dengan rending serta opor ayam masih terasa lezat dalam bayangan. Ahh, tetapi nyatanya tiga hari sudah ia berlalu. Hari ini, terhitung sudah memasuki tanggal 4 Syawal 1437 H.

Teriring ucapan Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyaamana wa shiyaamakum. Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian, puasaku dan puasa kalian. Mohon dimaafkan lahir dan bathin yaa J Semoga di momen idul fitri ini kita bisa saling membukakan pintu maaf. Untuk siapa saja.

Bicara soal idul fitri, selain tentang saling memaafkan, ketupat sayur beserta rendang atau baju baru yang dibela-belain beli di malam takbiran, ada satu hal lagi yang tak kalah menjadi trending topic. Yaitu tak lain dan tak bukan adalah serbuan pertanyaan, “ kapan nikah?” dari orang-orang yang sedikit sekali rasa empatinya bagi kaum jomblo single seperti saya ini.



Sudah kebal rasanya diserbu pertanyaan semacam itu haha!

Tapi jika dipikir dan direnungkan lagi, ternyata aku lebih takut jika; ditanya “man-rabbuka?”, daripada “kapan nikah?”

Whattt?!! Man-rabbuka? Itukan pertanyaan yang konon akan ditanyakan pertama kali oleh malaikat Munkar & Nakir; dua malaikat yang ditugaskan untuk menanyakan di dalam kubur.

Nah lho.. Lebih menakutkan yang mana?

Kalau cuma ditanya “kapan nikah?” kita masih bisa pakai jurus pamungkasnya para jones (a.k.a jomblo ngenes) dengan pura-pura mati, kok! Nah kalau sudah sampai dihadapkan dengan pertanyaan “man-rabbuka?” kan artinya kita sudah benar-benar mati, tho?

Wahai akhi, wahai ukhti.. Sebagai pengingat untuk kita semua, terutama diri saya sendiri bahwa TIDAK semua orang bisa merasakan menikah, namun semua orang SUDAH PASTI akan meninggal. Akan tetapi, bekal untuk menuju ke pernikahan atau kematian kah yang lebih getol kita persiapkan?

Ahh, rasanya saya lebih takut jika saya tidak bisa mendengar diri saya melafalkan kalimat syahadat di akhir hayat saya daripada tidak bisa mendengar lelaki idaman saya melafalkan kalimat akad di akhir masa lajang saya.

Rasanya, saya lebih takut jika saya ternyata lebih sibuk mempersiapkan diri untuk bisa bertemu dengan jodoh saya (yang belum pasti akan dipertemukan oleh-Nya di dunia atau nanti di akhirat sana) daripada mempersiapkan dan memperbanyak bekal saya menghadapi sakaratul maut (yang sudah pasti akan datang, tetapi entah kapan, bisa jadi satu detik setelah saya mengepostkan blog ini)

Juga rasanya saya lebih takut jika saya all out terlihat baik di hadapan ciptaan-Nya, dengan harapan agar ada laki-laki shalih yang melihat keberadaan saya dan kemudian berniat menikahi daripada all out menjadi benar-benar yang terbaik di hadapan Rabb saya, dengan harapan agar Dia tak enggan memperhatikan saya dan menjadikan saya salah satu hamba yang dicinta dan tak pernah lepas dari penjagaan-Nya.

Sebagai manusia normal yang mulai beranjak memasuki usia seperempat abad di tahun ini, sungguh saya pun ingin merasakan bagaimana nikmatnya membina rumah tangga. Saya pun ingin rasanya menggenapkan separuh agama saya yang tidak akan cukup dengan bertaqwa saja, karena setengah dari iman itu hanya akan tergenapkan dengan menikah.

Tapi apa yang lebih baik dari taqdirnya? TIDAK ADA J

Dia lah sebaik-baiknya perencana dan setiap detail perencanaan yang Dia rancang adalah yang terbaik buat kita, ciptaan-Nya. Maka tidak kah kita mulai untuk menjadi hamba yang berpikir?

Tidak usah pusingkan “mengapa saya belum (menikah), sedangkan teman-teman seangkatan sudah mulai mengajarkan anaknya berjalan atau sedang menanti kelahiran buah hati?”. Karena perkara jodoh dan menikah bukan perkara menang-kalah, cepat-lambat. Ia adalah perkara kapan menurut-Nya kita dirasa sudah layak atau belum.

Atau jangan-jangan Dia masih ingin kita mencurahkan cinta kita sepenuhnya hanya untuk-Nya? Allah itu Maha Pencemburu lho. Kalau sudah begitu, jalan terbaik yaaaa dekati Dia jauhi dia. Biar Allah saja yang pilihkan siapa yang terbaik, tugas kita cukup taat saja hingga Allah ridho untuk mempertemukan :”)


Baik adanya jika kita terus yakin akan ketetapan-Nya, apapun itu. Namun 100% salah jika apa yang kita harapkan belum terealisasi lantas kita cemas akan apa yang Dia rencanakan. Allah Maha Tahu, bukan? J


Niatkan semuanya agar Lillah.. Lillah.. Dan Lillah J







Note :
jangan rusak momen Idul Fitri kita dan hari-hari kita selanjutnya dengan menggalaukan jawaban apa yang paling sakti kalau ada yang bertanya "kapan nikah?" Lets enjoying our every single step and day! 

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar