Ujian BAB Dewasa

"Gimana hari ini? Ada cerita apa aja, Nau?", tanya seorang teman dekatku, Agung, lewat chat bbm

Pertanyaan singkat yang langsung ku jawab dengan cukup panjang, lebar dan JELAS!

"Huft banget hari ini. Tahu nggak? Tadi ada leader nyebelin dateng ke kantor. Pagi-pagi dia udah nyuruh aku sama satu lagi temenku ke ruangannya. Dari awal dateng mukanya udah nggak enak, kayaknya mau marah-marah. EHHH, ternyata bener banget. Baru duduk dia langsung kayak ngeinterogasi gitu. Marah-marah nggak jelas. Aku sih diemin aja, tunggu sampe marahnya kelar, sambil sugestiin diri biar nggak kepancing ikut kesel, secara lagi puasa"

"Emang kamu kenapa?", chat balasannya, memotong ceritaku.

"Huh! Bisa nggak sih dengerin dulu sampai selesai?", imbuhku kesal

"Hmm.. oke oke, lanjut Nau.."

"Iya jadi kemarin sempet missed-kom gitu. Tapi dia nyebelin banget, pake bawa-bawa agama, amanah yang nggak dijaga lah. Bla bla bla panjang dan ribet banget sampe kuping panas dengernya. Sampe akhirnya dia kelar, beres tuh ngomel-ngomelnya, aku langsung ambil kesempatan buat sedikit menjelaskan dan meluruskan. Lagipula temenku juga diem aja, antara shock atau males nanggepin orang marah pagi-pagi. Aku coba ngomong dengan selembut-lembutnya dan mencoba santai ngejelasin perkara yang bikin dia marah banget, kayak monster mau makan orang."

Tidak cukup sampai di situ, aku terus saja nyerocos menceritakan kejadian yang cukup menyebalkan di hari keempat puasa Ramadhan yang harus ku telan pahit-sepat itu. Dengan jawaban singkat dan sepertinya mencoba menenangkanku, temanku tetap stay cool dan tidak begitu menanggapi ceritaku.

Ia hanya membalas dengan "sabar, Nauraaaa.."  berulang-ulang, yang bukan membuatku tenang tetapi malah makin panas menjadi-jadi dan ingin menceritakan semuanya sedetail mungkin yang ku bisa.

Selesai ku bercerita, entah karena capek atau malas membiarkanku terus misuh-misuh, ia pun bertanya, "lha terus kamu maunya sekarang gimana, Nau? Apa nggak sebaiknya kamu coba maafin dan bebasin hati kamu sendiri daripada ngedumel atau bahkan dendam kayak gini kan?"

"Hmm... Aku mau aduin ke boss ku! Nggak bisa dong dia seenaknya marah-marahin kita seenaknya sampai gebrak-gebrak meja bahkan nunjuk-nunjuk temen aku. Ya, kan?" aku mencoba mencari pembenaran dan mulai merasa ingin sedikit dibela.

"Kamu jangan sedikit-sedikit ngadu lah, coba deh buat belajar lebih dewasa."

DHEG! 

Sedari awal Agung membuka gerbang percakapan dan menanyakan kejadian yang ku alami hari itu (yang artinya ia seharusnya bisa mendengarkan ceritaku secara utuh, bagaimanapun kondisinya), ia seperti malah hanpir tak sedikitpun menggubris.

Layaknya seorang perempuan yang sedang kesal, ia seharusnya mengerti bahwa mendengarkan semua cerita dari A sampai Z dan memberi tanggapan, atau setidaknya sedikit memahami kondisi yang ku alami saat itu. Karena nyatanya aku tak butuh nasihat, aku hanya ingin didengar dan diposisikan bahwa apa yang sudah kulakukan itu bukanlah hal yang salah. 

"Jadi menurutmu aku nggak dewasa, gitu? Coba deh Gung, kamu yang ada di posisiku. Nggak ngerti banget sih. Udah ah, aku capek baru pulang malah diceramahin kayak gini. Cerita sama kamu malah bikin emosiku makin nggak karuan. Bukannya ngebela aku malah seolah-olah nyudutin aku."

Agung, salah satu teman yang cukup dekat denganku. Bukan, bukan secara jarak tetapi lebih ke secara emosional. Ia yang cara berpikirnya lumayan dewasa, meski usia kami berdua sebaya seringkali menjadi sasaran tembakku saat aku sedang kesal atau ada sesuatu yang membuat hatiku tidak nyaman. Ajaibnya ia tak pernah marah. Sebaliknya, ia handal sekali menstabilkan emosiku, dengan caranya.

Meski kami berada di antara jarak yang hampir 250 KM, kami sangat aktif berkomunikasi via chat bbm, whatsapp atau telepon. Bertukar cerita atau sekadar haha hihi membuang waktu, membunuh lelah setelah seharian beraktivitas. Kami hanya beberapa kali saja bertemu, hanya saat ia ada kesempatan untuk mampir ke kota tempatku tinggal, menghadiri pertemuan komunitas sosial yang didirikannya sejak lima tahun silam untuk menyalurkan bantuan dari para donatur untuk kaum dhuafa yang membutuhkan, yang ia pusatkan di Jakarta, kota tempatku tinggal.

Perkenalan kami tiga tahun lalu, bertemu di salah satu acara komunitas Nasional-- dan entah bagaimana awal kedekatan kami, kami berteman-- atau bahkan mungkin bisa dibilang bersahabat seperti saat ini. Hampir tidak ada yang kami sembunyikan satu sama lain, saking kami sangat memegang prinsip saling percaya.

Aku melemparkan handphone ku ke kasur dan membiarkannya tergeletak, masa bodo apakah Agung masih akan menanggapi chatku atau dia pun turut merasa bahwa perbincangan kami saat itu terasa buntu. 

Aku keluar kamar dan beranjak menuju kamar mandi untuk sedikit membersihkan tubuhku. Mencuci muka dan menyikat gigi. Ku pikir sebaiknya aku tidur cepat malam ini. Sudah ku niatkan betul jika ada kesempatan, saat boss ku visit kantor, akan ku adukan apa yang telah salah satu leadernya lakukan padaku dan salah satu teman kerjaku. 

Tentang missed komunikasi yang berujung pada perasaan terpojokkan sekaligus kesal.

Ku biarkan handphone ku tetap tergeletak, tak ku sentuh sedikitpun. Aku lebih memilih mengambil salah satu novel, bacaan favorit yang biasa ku jadikan pelarian saat aku mulai merasa bad mood. Tidak terasa, rasa kantuk yang ku rasa akhirnya aku tertidur dengan novel yang masih ku genggam. Hari yang cukup berat, melelahkan sekaligus menyebalkan!

Mungkin efek dari kesal yang ku bawa hingga tertidur, aku pun mimpi buruk. Entah bagaimana mimpinya, yang jelas mimpi itu membuatku terbangun kaget. Aku mendengar suara handphone ku berbunyi, tanda baterai lemah. Dengan setengah malas aku pun bangkit dan meraih charger handphone yang ku letakkan di ujung tempat tidur dan langsung men-charge handphone ku.

Sambil bersandar di ujung tempat tidur, aku meraih handphone ku dan mengecek apakah ada chat yang belum sempat ku baca. Benar saja, beberapa notifikasi berbaris rapi dan membuatkan penasaran untuk membukanya.

Ku buka bbm, dan terpampang nama Agung Sandata di antara beberapa chat yang belum ku buka.

"Ya udah, kalau itu mau kamu Nau. Aku coba kasih tau aja ke kamu, nggak semua permasalahan harus kita perpanjang, cukup berhenti sampai di kita aja. Mungkin aja, dari kejadian yang mungkin memang kurang ngenakin yang kamu alami itu adalah salah satu soal ujian bab kedewasaan kamu. Kalau kamu mau dapet nilai bagus ya jawabannya juga harus bagus, kan? Kita nggak akan tumbuh dewasa kalau masalah yang kita hadapi cuma masalah-masalah sepele yang sekali "tring" bisa kita selesaiin. Kadang kita butuh masalah yang cukup rumit, bikin penat dan sakit kepala buat nyelesaiinnya, supaya apa? Supaya kita bisa ambil pelajaran, Nau.. Aku tanya ke kamu, apa dari kejadian yang kamu alami itu kamu merasa lebih dewasa? Seperti yang kamu ceritakan ke aku, finally kamu bisa meluruskan masalah dengan hati tenang walau pikiran kamu berisik kan? Kamu ngerasa nggak sih kalau kedewasaan kamu naik satu level? Kamu hebat nggak ikut kepancing marah, walau misuh-misuhnya ke aku sih hehe. Semoga sebangunnya kamu dari tidur kamu bisa lebih lega, karena aku tau, yang kemarin itu kamu cuma lagi khawatir aja. Khawatir apakah kamu bisa dapet nilai ujian yang bagus atau harus ngulang di persoalan yang sama? Ya udah, take your time. Selamat istirahat, Naura."

Tanpa ku sadari senyumku mengembang. He did it again! "why Agung, why? Kenapa kamu bisa sedewasa itu dan bikin semua persoalan terasa mudah, ringan?" aku membatin. Apa yang dia sampaikan lewat bbm itu rasanya benar-benar seperti jurus pamungkas. 

Dengan perasaan bersalah yang menggelayut, aku membalas bbm Agung. Ketik-hapus-ketik-hapus, sampai dirasa balasan yang ku kirim cukup baik untuk menanggapi nasihat Agung dan bisa menyiratkan permohonan maafku.

"You were right, Gung. I feel so much better now, especially after I read your nice (as usual) advice. Bunch of thanks :)". Sent







Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar