Apa Salahnya MengAPRESIASI?

Jadi ceritanya barusan gue baca penelitian gitu, yang mengklaim bahwa seorang perempuan perlu mengeluarkan 20.000 kata per harinya. DUA-PULUH-RIBU! Sedangkan laki-laki, mereka hanya memerlukan sekurangnya 7.000 kata saja per harinya. See? Cuma 1/3 nya aja, coy. Itupun hasil penelitian secara normalnya, terlahir dengan bawaan orok bawel atau ada keturunan ceriwis belum termasuk, HAHA! ( selengkapnya, kalian bisa baca --> http://health.liputan6.com/read/517933/wanita-bicara-20-ribu-kata-per-hari-pria-hanya-7000-kata )


Nyokap gue pernah cerita, sebelum doi hamil gue, doi pernah mimpi dikasih burung pipit-- yang secara mitosnya, kelak bakal punya anak perempuan yang bawel. Dan, yha! Inilah gue seperti yang kalian kenal ekekeke meski gue sih bukan penganut yang membenarkan mitos itu sendiri.

Tapi pada dasarnya, gue termasuk seorang perempuan yang menganut penelitian tersebut-- bahwa mengeluarkan 20.000 kata per hari itu sangatlah penting. Gue, terutama. Gue ini bisa dibilang tipikal orang yang gampang stress. Ngelakuin kesalahan kecil, yang sekecil upilnya kutu aja bisa gue pikirin berhari-hari. Apalagi yang sebesar rindu gue sama dia, kan? #kemudianbaper

That's why, gue perlu sharing. Perlu ngobrol atau sekadar diskusi ringan setiap harinya. Demi apa? Demi mewaraskan diri gue. Nah, kalau enggak gimana? Kalau enggak, gue bakal rungsing, kesel sendiri. Gak jelas lah pokoknya. Dan menulis blog buat gue bisa jadi salah satu "wadah" untuk gue menyalurkan sebagian dari yang 20.000 itu :'D

Tapi ada baiknya, cukup hal-hal baik aja lah yang dikonversikan menjadi 20.000 kata itu. Ngatain orang, debat kusir, nyinyir nggak usah dimasukin. Rugi.

Gini, hari ini ada satu (dari sekian banyak) keresahan yang gue rasain belakangan dan rasanya kalau nggak gue keluarin, gue bakal dongkol sendiri. Tentang apa? Tentang pentingnya mengapresiasi, memberikan penghargaan atas apa yang sudah (mungkin susah payah) dilakukan orang lain dan itu kadang luput dari penglihatan ragawi kita.

Gue punya beberapa temen yang jago design. Tapi gue bakal ceritain aja salah duanya sebagai bahan gue kali ini. Yang pertama, salah satu teman yang gue kenal waktu gue merantau ke Jogja sekitar dua tahun silam. Waktu itu, dia dapet orderan untuk bikin logo komunitas gitu dan dikasih waktu sekitar dua minggu-an kalau nggak salah. Setelah kelar, dia share lah logo bikinannya ke grup BBM (di situ pas ada gue juga). Nggak lama, beberapa member grup LANGSUNG berkomentar tentang kekurangan dan apa-apa yang mestinya ditambah-dikurang dari logo tersebut tanpa basa basi. Gue pun salah satu yang berkomentar, tapiiiiii sebelumnya gue apresiasi dulu. Gue puji yang memang di penglihatan gue bagus, selebihnya gue koreksi supaya bisa diperbaiki atau bahkan disempurnakan sama dia.

Kurang dari sepuluh menit, apa yang terjadi? Ketika grup lagi rame-rame nya, dia LEAVE grup aja dong. Wah kenapa nih? grup makin rame.

Nggak lama, dia personal chat ke gue. Dia nesu-nesu. Kesel abis. Dia tumpahin semua kekeselannya dan gue cuma bisa mantau isi chat sambil rasanya pengin ngasih dia minum. Takut haus :P 

Yang pada intinya, dia sangat menyayangkan teman-teman di grup tersebut begitu fokus akan kekurangan dan komentar akan hasil karya yang dia buat siang-malem, jungkir-balik dan galau dua minggu. Gue? Masih mantau chatnya. Belum dikasih kesempatan ngomong hahahaa

Dan gue coba memposisikan diri gue, gimana kalau gue jadi dia. Iya sih, kesel. Udah capek-capek tapi nggak dihargain. Mungkin kita pun pernah ngalamin hal semacamnya, kan? Meski udah gue bantu jelasin bla bla bla, dia pun ternyata ngambek berkepanjangan, nggak mau diinvite lagi ke grup dan sebodo teuing logo buatannya mau dipake apa enggak. Ya sudahlah.

Nah yang kedua, hampir mirip ceritanya. Tapi kali ini, temen gue yang kedua, saat itu dapet order untuk bikin poster acara. Rasa-rasanya sih dia udah ngikutin yang diminta, meski memang tiap designer pasti punya ciri khasnya sendiri yang bakal melekat dan susah tuh dipisahin dari hasil karyanya.

Yang ini lebih ajaib, dia diminta bikin poster dalam waktu sehari. Jadi sih, tapi ya gitu. Masih aja ada yang kurang (buat gue ini wajar, se-wajar ada harga ada barang hahaa) tapi lagi-lagi. Waktu dia preview hasilnya, beberapa orang langsung menyerang dia dengan kritik dan komentar. Saat itu malah gue yang deg-degan haha. Gue kayak ada di posisi yang sama, yang pernah gue alamin sebelumnya. Dan, guess what?

Temen gue pundung. Dia keukeuh hasilnya udah sesuai yang diminta, tapi yang minta tolong (well hey, minta tolong. It means, temen gue bikin posternya for free! Sukarela) dan jadilah, malah berujung pada orang tersebut minta buatin yang lain. Tapi yaaa pake bayar. 

Di sini jelas, kadang kita tuh ngerasa fine fine aja berkomentar apapun sesuka hati kita tanpa memikirkan gimana rasanya si-yang-dikomentarin. Don't we? Padahal, mungkin kita nih nggak tahu, apa yang dia lakuin, perjuangkan. Gimana prosesnya. 

Sama halnya ketika gue dapet pesenan bikin kue dari kantor untuk suguhan tamu, yang malamnya gue harus pulang lebih malam dari biasanya, yang akhirnya kue bikinan gue kurang maksimal even gue bela-belain begadang dan cuma tidur dua jam, besoknya harus macet2an bawa empat kardus kue di kanan-kiri gue #lahcurhat

Gue akuin, rasanya ya biasa aja. Belum maksimal. Gue aja yang bikin agak kecewa kok. But, hey! Kue yang gue bikin rasanya masih layak makan, cuma memang karena komposisi nya ada yang timpang jadi rasanya memang kurang pas. Gue anggap itu wajar, dan gue pun jualnya cuma untuk ganti biaya bahan-bahan kue itu aja.

But then? Beberapa teman dekat yang nyicip malah nyinyir. HAHA, gue ketawa aja. Gue ketawa perih-perih gimanaaa gitu. Tapi gapapalah, mereka mungkin nggak ngeh, khilaf. Dan gue nggak memaksakan mereka untuk sepaham sama gue, bahwa: bagaimanapun, apa salahnya mengapresiasi? :)

Gue punya prinsip kalau nggak ada satu orangpun yang nggak senang dipuji, diapresiasi. Dan kita, sebagai makhluk yang pun senang diperlakukan demikian, kenapa nggak memulai. Ya nggak sih? Bukankah menyenangkan hati orang lain, bagi seorang muslim, ada pahala baginya? Dan gue yakin, mengkritisi tanpa mengapresiasi cuma bakal mematikan daya seseorang. Tapi mengapresiasi lalu mengkritisi bakal jadi nilai tersendiri dan who knows, kalau dengan cara begitu dia jadi terpacu semangatnya berkali-kali lipat. Kan? :)








Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

4 komentar:

  1. Nah! Bener banget kak, setuju. I like it 😁👍
    Dan yang paling penting kita harus bicara hanya yang baik-baik aja, kalau ngga lebih baik diam. Ini menanggapi 20.000 kata tadi wkwk

    Soal mengapresiasi, bahkan dalam islam pun kalau mau mengkritik kalau bisa secara personal aja jgn di hadapan orang banyak. Tapi nyatanya emg banyak bgt sih orang kaya gitu, kalau bicara kurang dipikir & diolah lagi 😂 semoga kita ga kaya gitu yaa dan bisa ngasih contoh ke orang lain 😉
    Keep writing kak 💪

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap.. Kadang kita nggak sadar kalau self-control kita ternyata kedodoran padahal aturan agama udah jelas ya hikss anyway, bunch of thanks for reading my blog Sas! #PeluKiss

      Hapus
  2. Speechless lah sama tulisan eva mah (*emot love)....
    Gw gak harus komentar dgn 7 ribu kata kan ya? Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. HAHA! Silakan tulis komennya di blog pribadi dan kirim link nya di sini :P
      Thanks udah luangin buat baca, Mas Bacan! Ehehe *kirim pie susu*

      Hapus