Kapan Nikah, Va?

おはよぅ ございます !

Welcome back to Eva's blog!! Gimana kabarnya hari ini? Masih jomblo apa udah mendingan, gengs? Ngg...................




Hari ini gue mau ngajak teman-teman buat ngobrolin soal NIKAH! N-I-K-A-H (Pernikahan atau nikah artinya adalah terkumpul dan menyatu. Menurut istilah lain juga dapat berarti Ijab Qobul (akad nikah) yang mengharuskan perhubungan antara sepasang manusia yang diucapkan oleh kata-kata yang ditujukan untuk melanjutkan ke pernikahan, sesusai peraturan yang diwajibkan oleh Islam) --Wikipedia, red.

Berat ya? Biar. Haha

Tapi sebelumnya, untuk yang agak sensitif sama pembahasan ini, gue minta maaf yaa. Mohon bersabar, ini ujian. Mohon berlapang dada~~ **SO7's song played



~~~~~~
Nah di tulisan kali ini, gue lebih akan ngobrolin tentang nikah dari perspektif gue pribadi ditambah dari apa yang gue amatin dari sekitar gue, khususnya teman-teman terdekat gue yang sampai saat ini masih berpegang teguh pada status jomblo single nya ehehe *perih

Di penghujung tahun 2016, akhir bulan Desember lalu gue ikut salah satu seminar yang temanya "Menjemput Jodoh Impian". Seperti yang sudah-sudah, keinginan gue untuk ikut sebuah seminar adalah lebih ke "Siapa yang ngisi acaranya?" haha How subjective I am! Barulah yang kedua; seberapa worth it seminar itu.

Menurut gue pribadi yang to be honest memang sedang mempersiapkan diri untuk menikah, ilmu-ilmu seperti ini amatlah penting. Gue tau, pada akhirnya teori memang hanya akan berperan sekian persen saja. Selebihnya adalah bagaimana cara kita menyikapinya. Menyikapi segala apapun yang akan kita jalani, hadapi dan selesaikan dalam sebuah rumah tangga *azek

Di keluarga gue, bisa dibilang seusia gue ini gue udah "telat" nikah. Tapi nikah kan bukan lomba yang siapa cepat dia nikah. Nikah buat gue lebih soal bagaimana kita akan memulai sebuah fase baru, dengan seseorang yang (mungkin) sudah terbayangkan atau bahkan nggak kepikiran sama sekali untuk hidup bersama, sehidup se-Surga

Mungkin ada di antara kalian yang berpikir bahwa tulisan ini hanyalah pembelaan diri gue or whatever lah. It's okay. Karena gue pun nulis ini berdasarkan sudut pandang gue sendiri :D

Okay. Menurut gue, hal terpenting dari sebuah pernikahan adalah NIAT dan ILMUnya. Dalam Islam sendiri, hukum nikah ada lima. Pernikahan itu bisa jadi sunnah, wajib, haram, makruh atau mubah tergantung sama NIATnya (baca di sini) dan hey, nikah tanpa ILMU? Mau ngerjain soal matematika aja butuh ilmu, apalagi soal rumah tangga? #ehem

Gue nggak sinis sama mereka yang memutuskan untuk nikah muda, untuk ngebebasin diri dari zina sejak dini. Bagus malah, seneng liatnya. Daripada macem anak-anak remaja zaman sekarang yang sekolah aja masih dibiayain, jajan masing nadang, pulsa masih ngutang #eh, udah sok-sokan ngumbar cinta. Udah sok-sokan Ayah-Bunda-an. Pft.

Gue ngeliat, beberapa contoh di sekitar gue yang menikah muda. I dunno their truly intention to get marry, tapi sedih aja gitu mereka pada akhirnya, di usia pernikahan yang belum masuk lima tahun (ada yang bilang, usia ini adalah usia "rawan") tapi sering posting status galau, nyindir-nyindir suami/istrinya, bahkan yang lebih ekstrem, ada yang terang-terangan buka aib pasangannya.

Tapi ada juga kok yang malah sedikit-sedikit gue curi ilmunya. Karena walau sama-sama masih muda, mereka bisa asyik-asyik aja tuh ngejalanin pernikahan. Ya balik lagi, tergantung bagaimana NIAT dan ILMU di awal tadi sih gue rasa.

Mbak, Mas, pasangan kita itu kan ibarat pakaian. Yang semakin tertutup, semakin dijaga maka akan semakin baik buat kita. Kalau ndak? Ya sebaliknya. 

Gue memang belum tau lika liku nya pernikahan itu kayak gimana. Tapi nggak usah jauh-jauh, dari yang terdekat aja deh ya. Gue banyak ngeliat, coba memahami orang tua gue, kakak-kakak gue yang kesemuanya udah menikah. Gimana romantismenya, berantem cekcoknya, diem-diemannya dll nya 

Yang buat gue dan mungkin motivator-motivator lain pun pasti sepakat, kalau dalam sebuah pernikahan KOMUNIKASI ADALAH SEGALANYA. Banyak pernikahan yang menyerah di tengah jalan karena komunikasi yang berantakan. Ibarat provider sinyalnya putus-putus, gimana mau nyambung coba?

Sebenarnya kita kepingin A, tapi nggak dikomunikasiin, akhirnya si pasangan nganggepnya B atau bahkan Z. Dan oh ya, ndak usah lah tu ya kode-kode. Bagus kalau pasangan kita paham, langsung ngerti. Gimana kalau nggak? Bisa jadi bahan berantem tuh. Nanti curhat sana sini, posting di semua sosial media atau share-share artikel tentang "Bagaimana Memahami Si Dia" ehehe kan lebih enak duduk sambil ngeteh trus diomongin kan? :")

Terus nih yah, cobalah berusaha memahami dan menghargai usaha yang pasangan kita lakuin. Ndak usah banding-bandingin atau keseringan nengok ke "pasangan tetangga". Mungkin rumput tetangga memang terlihat lebih hijau, tapi kan kita nggak tau rumput itu asli atau imitasi? #nahloh 

Gue sih yakin, nggak ada laki-laki baik yang seneng liat kehidupan keluarganya, anak-istrinya susah. Nggak ada coy. Pasti mereka selalu cari cara, puter otak gimana caranya ngebahagiain kita, anak orang yang dia pilih jadi istrinya trus dinikahin, rela keluar dari rumah orang tuanya untuk ngebangun kehidupan bareng mereka. Yang bahkan baktinya bisa jadi kunci Surga atau Neraka kita.

Dan gue yakin, nggak ada perempuan baik yang seneng bikin susah hati suaminya. Teleponin tiap menit buat nanya keberadaan, pulang kantor jam berapa, kapan mau beliin sepatu yang dipake si ini itu, kenapa gaji belum naik-naik dll. Nggak ada juga coy. Pasti mereka selalu besar hati dan ikhlas ngedoain lamat-lamat di dalam hatinya supaya suaminya bisa cari rezeki halal dengan tenang, bisa bayar sekolah anak-anaknya, pasang muka happy walau dia tau mungkin suaminya abis kena masalah dll. Bisa jadi penenang.

AH, sotoy banget ya gue. Tapi kesotoy-an gue mungkin kelak bisa jadi modal. Modal untuk bisa bareng-bareng menggenggam tangan pasangan gue kelak. Saling membahagiakan, mengingatkan dan mengajarkan tentang kebaikan-kebaikan. Yang tentu lah sifatnya untuk akhirat.

Tapi insyaAllah lah gue dan pasangan gue nanti bisa. Bisa untuk saling meluruskan dan menjaga NIAT juga nggak sungkan atau males pelajarin ILMUnya biar sampe lah tu ke pernikahan yang dalam Islam bilang; Sakinah Mawadah Wa Rahmah. 

Aamiin ya? Aamiiiiiin :D

Gue cuma bisa berdoa kalau akan semakin banyak bermunculan pernikahan-pernikahan panutan, yang melahirkan anak-anak yang shalih shalihah, jadi kebanggaan dan kunci Surga buat orang tuanya (dan mudah-mudahan pernikahan gue nanti adalah salah satunya) :)

Menikahlah kalau memang sudah siap, terutama secara ILMU. Menikahlah kalau memang sudah bisa menghargai dan berbahagia atas kesendirian. Dan menikahlah, kalau sosok baik itu sudah tampak di depan matamu. Jangan lupa istikharah ya! 



Jadi, kapan nikah Va? :)












Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar