Random Thought #3

Gue pernah baca, kalau seseorang memerlukan waktu 10.000 jam untuk bisa menjadi orang yang ahli di bidang tertentu. Sesuatu yang diulang-ulang, dilakukan terus menerus hingga melekat dan menjadi bagian dari diri seseorang, menjadi sebuah keahlian.

Ustadz Yusuf Mansur pun menganjurkan bagi seseorang yang ingin istiqomah dalam memelihara kebiasaan baik, misalnya dalam hal salat di awal waktu, baiknya melakukan riyadhah (latihan) secara bertahap; 1 minggu, 1 bulan, 40 hari, dst hingga menjadi kebiasaan. Jangan lupa, sabarnya disertakan ya :)

Dan rasanya, menurut gue, pada akhirnya penting juga bagi kita kemudian untuk memilih lingkungan yang tepat, untuk mendukung usaha tersebut. Sehingga semuanya bisa sejalan. Karena mungkin akan terasa lebih berat dan bahkan sulit, bila di dalam diri sudah punya azzam yang kuat, tetapi sekitar kita, lingkungan kita ndak sinkron.

Well, contoh singkatnya, bukan hal yang aneh lagi lah ya kalau kita melihat banyak pengendara motor di Jakarta lalu lalang tanpa memakai helm. Semacam pelanggaran yang sudah biasa, sehingga dilakukan ber"jamaah". Dan to be honest, gue pun kadang jadi bagian dari "jamaah" itu ._. kita pengin jadi pribadi yang taat, di saat justru lingkungan kita malah mengajarkan ketidak-taat-an. Dan sayangnya, itu terjadi turun menurun. Menjadi budaya. PR banget kan?

Pemandangan yang berbanding terbalik waktu gue dapat kesempatan untuk tinggal di Jogja lebih kurang setahun. Di sana semuanya teratur, serba tertib. Ya, walau mungkin ada satu dua yang masih melanggar sih. Tapi gue ngeliat, gimana dari hal sepele aja masyarakatnya bisa "diemong". Pakai helm saat mengendarai motor atau berhenti di belakang garis putih saat lampu merah. No hard feeling ya. Gue asli Jakarta, gue lahir dan tinggal di Jakarta dari kecil. Maka dari itu kemudian gue mikir "kok bisa?"

Padahal fungsi helm itu sendiri kan buat safety, keselamatan diri. Bukan lolos dari razia polisi. Jawabannya (mungkin) adalah karena ada kebiasaan baik yang dibiasakan. 

Mungkin dari kita ini kebanyakan mau ngatur tapi nggak mau diatur, kebanyakan mau menasihati tapi ndak mau kasih teladan. Bukannya anak cucu kita butuh contoh yang real? Yang nyata dan bisa diikuti? Ibarat pepatah; buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Jadi kalau bukan dimulai dari kita, mau nunggu siapa lagi? 

Sama halnya bila kita ingin berhijrah, memperbaiki diri meninggalkan sifat-sifat yang jahil menuju ke arah-arah yang ihsan, yang baik. Selain butuh azzam, niat, kita juga butuh berada di lingkungan yang tepat. Memang ada yang harus dikorbankan. Tetapi, bukankah meninggalkan sesuatu dengan niat Lillah, apalagi untuk menjadi pribadi yang lebih baik itu lebih baik? *nah lho gimana tuh hehe

Mau hijrah ninggalin rokok, tapi ngumpulnya sama orang-orang yang hobi "ngebul". Ya bakal berat dan malah akan menghambat proses hijrahnya. 

Dulu mungkin sering kita dapati nasihat dari orang tua kita kalau jangan memilih-milih dalam berteman. Namun pada kenyataannya, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya tingkat kedewasaan kita, kita mulai bisa menilai mana yang baik mana yang tidak, maka nasihat itu pun kelamaan menjadi bias. Bahwa, dalam berteman ya memang seharusnya milih milih!
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman


Sumber: https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman


Sumber: https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman


Sumber: https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman"
Nah, udah tau dong kenapa selama ini kok kita nggak istiqomah istiqomah, kita kok nggak expert expert. Padahal niat udah nancep banget? Bisa jadi, lingkungan kita lah yang kurang tepat, teman-teman yang kurang membawa manfaat :) gue pribadi, strict banget dalam memilih siapa aja teman, sahabat gue. Bukan karena sombong, siapalah gue ini kalau harus sombong? Tapi karena ternyata, teman kita bisa jadi gambaran akhirat kita kelak :")

Allahu a'lam bishshawaab.. :)



Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar