Dear Orang-orang yang Hobi Berkomentar :)

Beberapa bulan lalu gue berkesempatan berkunjung ke rumah salah satu sahabat gue di daerah Bogor. Mungkin hampir setahun lamanya atau bahkan lebih kami tidak bertemu. Dan betapa kagetnya gue ketika melihat dia dalam kondisi tubuh yang teramat sangat kurus. FYI, menurut gue, normalnya dia pun sudah terbilang kurus. Nah, yang gue lihat terakhir, kurus, masih lebih kurus lagi. Benar-benar kurus!

Spontan gue bilang, "ya ampun kurus bangetttt!!" yang sejurus kemudian ditanggapinya hanya dengan tertawa kecil dan semuanya kembali biasa saja. Kami ngobrol, sharing sampai hampir seharian.

Sesampainya di rumah, gue langsung merasa bersalah atas apa yang gue lakukan saat bertemu dengan sahabat gue itu. Yang ternyata setelah gue pahami, dia bisa sekurus itu ya karena dia baru melahirkan dan energinya terkuras penuh untuk mengurus buah hati pertama nya. Memberikannya ASI eksklusif! Ditambah, dia tidak memakai jasa pengurus rumah tangga untuk menyelesaikan perkara-perkara rumah tangga seperti mengepel, memasak dls.

Gue langsung mengirim chat via WhatsApp untuk meminta maaf. Walau nyatanya, dia bilang dia tidak ingat dan tidak terlalu menanggapi apa yang spontanitas gue ucapkan. Walau nyatanya juga, gue masih merasa bersalah saat itu.

Buat gue, mengomentari fisik seseorang bukanlah sesuatu yang "layak" diungkapkan, apalagi di depan umum. Terlebih, kalau kita nggak tahu cara terbaiknya. Kenapa? Karena biasanya akan ada sisi kurang baik yang menjadi fokus. Misal pakaian yang kurang matching lah, alis miring sebelah lah serta lah lah lainnya. Dan jatuhnya, kita akan terasa seperti sedang menjatuhkan orang lain. Menjadikannya sebagai objek lelucon. Alih-alih mau silaturahim, mengobati rindu, ehhh malah menanam masalah baru. 

Salah satu alasan kenapa gue sangat tidak menyukai hal tersebut adalah, karena kalau didiamkan BIASANYA akan menjadi kebiasaan. Dan seakan sah sah saja baginya untuk mengomentari hal yang sensitif pada diri seseorang. 

Gue tipikal orang yang cukup mudah tersinggung, terutama yang berkenaan dengan fisik. Tapi biasanya, gue konfirmasi/mengungkapkan langsung ke yang bersangkutan bila hal tersebut terjadi. Gue kasih tahu kalau gue nggak suka dengan caranya menegur gue (dalam hal ini hanya yang berkaitan soal fisik ya!)

Bukan apa-apa. Tapi ya, please deh. I mean, kayak nggak ada bahasan lain kah? 

Begini ya, ada sebagian orang yang tingkat stress pada dirinya sendiri itu tinggi. Terutama orang-orang yang terlahir dengan dianugerahkan sisi limbik (otak perasaan) yang lebih dominan. Dan akan berakibat fatal ketika dia mendapatkan input kurang baik yang ditujukan pada dirinya. Mereka bisa down dan kehilangan rasa percaya diri lho. Menyebalkan sekali, bukan?

Di sisi lain, jika kebiasaan seperti ini dipelihara, nantinya pun akan berakibat fatal pada si "pelaku". Kenapa? Karena tanpa disadari, apa yang disampaikannya seperti menjadi doa untuk dirinya sendiri. Kebayang nggak sih, kalian komentar yang kurang baik terus menerus dan komentar itu terakumulasi dan berubah menjadi doa yang ditujukan untuk diri sendiri? Hmmm..

Kalau pun harus berkomentar, pikirkan lah terlebih dahulu. Rangkai kata sebaik-baiknya. Supaya bukan asal bunyi. Tetapi menjadi komentar yang membangun, memberikan efek positif pada orang lain. Kalau memang belum bisa, ya lebih baik diam. Bukankah terkadang diam itu emas?




Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar