Hidup Ber-Media Sosial



Di era yang serba-internet ini, hampir jarang rasanya ada orang yang tidak “bermain” media sosial, terlebih para pemuda millenials yang terkenal dengan sebutan kids zaman now itu. Ibarat hidup, mungkin internet sendiri sudah bisa diibaratkan selayaknya udara. Sesuatu yang sangat primer, sangat penting dan dibutuhkan. Hampa rasanya jika sehariii saja tidak berselancar di dunia maya.

Rasanya tak bisa ditampik lagi kalau eksistensi menjadi sesuatu yang kini dikejar banyak orang. Seperti ada kebanggaan tersendiri ketika jumlah follower di Instagram bisa tersimbolisasi dengan huruf “K” di belakang angka. Juga tak bisa ditampik, jika media sosial bagaikan dua mata pisau yang tak terpisahkan. Ia bisa menjadi sesuatu yang baik atau buruk, tergantung bagaimana si pengguna dalam memanfaatkannya.

Mungkin kali ini, gue mau lebih menyoroti bagaimana media sosial bisa menjadi penyambung atau malah menjadi pemutus tali silaturahim. Seolah-olah, media sosial adalah segalanya. Hingga follow-unfollow bisa berujung menjadi masalah besar, sebuah bencana.

Menurut survey dari salah satu lembaga penyelenggara tes kecerdasan, negara tercinta kita, Indonesia ini mayoritas ditinggali oleh orang-orang yang sisi perasaannya sangatlah kuat. Tak heran kalau banyak komunitas atau perkumpulan yang terbentuk atas dasar kesamaan perasaan. Kabar baiknya, masyarakat kita bisa dibilang sebagai masyarakat dengan tingkat kepekaan sosial yang cukup tinggi. Akan tetapi, kabar buruknya, masyarakat kita ter-label sebagai masyarakat yang baperan. Mudah tersinggung.

Jujur deh, pernah nggak lo ngerasa kalau teman lo nggak peduli atau cuek sama lo atau berpikir “jangan-jangan ada sesuatu” CUMA karena dia nggak nge-like postingan lo? Pernah nggak lo ngerasa nggak dianggap ketika nama lo nggak di-tag di salah satu foto yang teman lo share? Gue sih pernah. To be honest. Tapi kemudian gue sadar, pikiran kayak gitu terlalu dangkal. Terlalu apa ya, kekanak-kanakan banget. He he

Tapi yang seperti itu, tak ayal terjadi. Seringkali.

Mudahnya seseorang menghakimi kehidupan orang lain, menganggap diri merasa begitu kenal dengan orang lain yang hanya “dipantau”nya lewat layar handphone. Haters pun bermunculan. Akun gosip pun bertebaran. Akhirnya, media sosial menjadi wadah pemberat dosa. Subhanallah.

Sedih rasanya, ketika ada dua orang yang bersahabat akhirnya saling bermusuhan karena kesalah-pahaman yang terjadi dalam ber-media sosial. Gue pribadi mencoba untuk tidak menyangkut-pautkan kehidupan nyata dengan di dunia maya, walau kadang masih terpeleset juga.

That’s why, di akun-akun media sosial gue, gue nggak mengikuti terlalu banyak orang. Simply, terkadang ada orang yang walaupun teman dekat sendiri, tapi isi medsos nya bertolak belakang dengan pola pikir gue. Gue lebih suka berteman dengannya secara nyata. Dan itu cukup buat gue. Gue juga nggak pernah sih, memaksakan orang lain untuk mengikuti akun medsos gue. Karena mungkin orang lain pun berpikiran tentang hal yang sama dengan gue.

Ingat ya, kita punya kontrol penuh atas pikiran kita. Jangan lah mudah terhasut dan tersulut akibat sesuatu yang kebenarannya belum tentu pasti. Cek kembali. Cari sumber yang jelas. Jangan sampai, sesuatu yang diciptakan untuk menjadi sarana memudahkan hidup, malah jadi sesuatu yang merusak hati. Jangan sampai, kita punya smart-phone, tapi kita nggak jadi smart-people. Jangan yaaa (:

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar