Lima Daftar Kebaikan

“Karena sesungguhnya, niat yang kuat saja tidaklah cukup jika tidak didampingi dengan usaha yang kuat pula”


Percayalah teman-teman, di balik quote yang mungkin cukup bijak di atas ada blogger amatir yang mencoba mengalahkan rasa ngantuknya demi terbitnya tulisan ini haha!

Ada banyak, banyaaaaak sekali materi yang menggantung di alam pikiran gue sebenarnya, berteriak bahkan sampai meronta-ronta agar segera dituangkan ke dalam tulisan #maaflebay tapi sayangnya, lagi-lagi kata “tapi” lah yang sering menahan gue buat nggak segera mengeluarkannya #pembenaran #maklumbloggerseninkamis

Well, mari kita sudahi saja lah opening yang sangat kental unsur curhatnya ya : )))

Tetiba gue nih keinget akan apa yang pernah gue dapat dua tahun silam, waktu gue bersama beberapa teman jebolan sebuah pelatihan pengembangan diri, berkesempatan mengikuti kelas inkubasi, yang diselenggarakan sebanyak empat kali pertemuan, di bulan September 2015 lalu oleh mentor kami.

Dan tentunya banyak, banyaaaaak sekali yang kami dapat, terutama apa-apa yang kiranya bisa menjadi bekal untuk kami yang saat itu sedang mendalami ilmu beladiri self improvement. Salah satunya, dan cukup membekas buat gue adalah waktu kami mendapatkan tugas untuk menuliskan minimal lima kebaikan yang kami mampu lakukan SETIAP HARInya.

Bukan, kami bukannya mau mengambil alih tugas malaikat pencatat amal baik/buruk. Kami hanya sedang diajarkan bagaimana agar kami, para peserta kelas inkubasi bisa secara istiqomah bahkan meng-upgrade diri untuk melakukan kebaikan setiap harinya.

Benarlah kalau ada yang bilang kalau ilmu itu nggak sama kayak kita makan sambel. Yang saat itu dimakan, saat itu juga pedasnya terasa. Tapi ilmu itu adalah sesuatu yang kita pelajari saat ini, agar manfaatnya bisa dirasakan berkepanjangan.

Dari sesuatu yang awalnya merupakan “tugas”, tanpa sadar gue malah terbawa untuk melakukannya terus-menerus. That was like something addictive. Memang gue sudah tidak lagi mencatatnya, yes thats my bad. Dalam urusan catat-mencatat gue nilai kerajinan gue memang 4/10 haha tapi nggak jarang gue me-review nya setiap kali mau tidur.

Gue ingat-ingat lagi, hal positif atau kebaikan apa yang sudah gue lakukan hari itu. Untuk apa? Untuk evaluasi diri tentunya. Sebagai acuan, seberapa berperan aktifnya gue pada sekitar gue, minimal keluarga gue. Seberapa manfaat diri ini bisa dirasakan oleh orang lain.

Yang akhirnya, alam bawah sadar kita terprogram untuk gerak cepat. Gerak cepat dalam melakukan kebaikan, turun tangan. Dimulai dari hal tersederhana saja. Misal menyiapkan sarapan untuk keluarga, yang biasanya dikerjakan oleh Ibu kita, menolong Kakak untuk membeli sesuatu/kebutuhannya atau menyiapkan teh sore untuk Ayah. Kalau sedang di luar rumah, kita bisa saja melakukan kebaikan dengan menyingkirkan benda berbahaya yang tergeletak di jalan yang kita akan kita lewati, membantu lansia yang ingin menyebrang jalan atau membantu Ibu-ibu yang kerepotan dengan anak-anaknya saat akan naik kendaraan umum. Mudah sekali kan? Kelihatannya “ringan” dan “sepele”, bukan?

Tapi percaya deh, nggak ada kebaikan yang sepele. Sekecil apapun itu. InsyaAllah semuanya bernilai pahala. Bagaimana tidak? Dengan kebaikan yang kita lakukan, kita sudah sedikit meringankan pekerjaan orang lain atau bahkan menjauhkan orang lain dari kejadian berbahaya, allahu a’lam.

Sebetulnya sih, gue yakin yang macem gini kalian mah sering banget ngelakuinnya. Ya kan? Ya dong. Tapi yang namanya istiqomah itu memang agak agak butuh diperjuangkan. Karena bisa jadi, ada kalanya, mood kita lagi nggak enak, stress karena pekerjaan yang menumpuk atau apapun itu yang membuat kita juga kurang bersemangat dalam melakukan kebaikan.

Karenanya, mulai dengan menulis daftar kebaikan boleh dicoba kok! Mari kita tantang diri kita sendiri, untuk minimal melakukan lima kebaikan SETIAP HARInya. Tenang, selama tujuannya Lillah, ini bukan untuk ngebangga-banggain diri kok. Bukan buat pamrih juga. Tapi pure, Lillah. Istiqomah.

Kalau berani ngelakuinnya, siap-siap nerima “risiko”nya ya! Lho kok ada risikonya? Kan ini ngelakuin kebaikan? Ya ada dong. Mau tau apa risiko nya apa kalau kita udah mulai bisa akrab dengan segala bentuk kebaikan? Ya apalagi kalau bukan kebaikan juga? Risikonya, kita pun insyaAllah akan merasakan kebaikan dalam hidup kita. Ingat saja hukum tebar-tuai. Jangan dikira kebaikan yang kita dapatkan dalam hidup itu “gratis” lho ya! Semuanya ada harganya, tapi sayangnya aja kita nggak sadar kalau kita udah ngebayarnya. Dengan apa? Dengan kebaikan yang kita lakukan sebelumnya : )

MasyaAllah...



Jadi, udah pada siap menebar kebaikan kan?

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar