Handphone Tanpa Sinyal. Apa Jadinya?

Lagi-lagi, hati diminta untuk lebih peka. Bukan hanya akan hal-hal yang baik lagi menyenangkan, juga tentu, tak bisa terlepas dari hal yang mungkin (sekadar terlihat menyenangkan) namun ternyata melenakan, dari hal-hal baik (:

Dua ribu delapan belas.

Tahun di mana rasanya Handphone bukan lagi barang yang tergolong superior buat kita. Bukan barang langka dan mewah. Tapi malah udah jadi barang premier, menempati posisi pelengkap dari sandang, pangan dan papan, kemudian handphone. Kenapa gue bisa bilang begitu? Kasarnya nih, kayaknya orang bakal lebih milih lupa pakai celana daripada ketinggalan Handphone. Bener apa bener? Bener? Ha? Pernah ngalamin? Haha.



Gue sendiri termasuk orang yang cukup dekat dengan benda mungil ini. Walau tingkatannya masih sekadar “teman” sih. Karena rasanya buat jadi sahabat apalagi pendamping hidup dia masih jauh dari memenuhi syarat #ehgimana #plak

Well, menurut kalian, apa sih komponen yang paling penting dari sebuah Handphone? Casing kah, baterai, mesin, atau apa? Dan kenapa itu menjadi yang paling penting buat kalian?

Kalau gue boleh mewakili kalian ngejawab pertanyaan di atas, menurut gue, komponen terpenting dari sebuah Handphone ya sinyal nya. Lha kok sinyal, Va? Dia kan bisa aja tergantung kartu simnya. Bukan komponen yang menempel? Lha ya kan ini menurut gue. Yang mungkin aja, beberapa dari kalian pun setuju dan merasa terwakili.

Gini gini, ada kah dari kalian yang memakai Handphone tanpa kartu sim? Kalau pun memanfaatkan modem, tapi modem pun butuh kartu sim bukan? Yang artinya, walau sinyal itu bukan komponen “internal”, tapi keberadaannya mestilah jadi satu kesatuan dengan kartu sim dan OTOMATIS menjadi bagian dari Handphone itu sendiri. Dan bisa diperhitungkan tingkat kepentingannya. Ya kan?


Hmm, oke oke, sepakat.              


Trus kenapa gitu, Va? Apa yang pengin lo bahas sekarang?

Sebetulnya, bahasan ini udah cukup gue catat baik-baik untuk bisa gue share ke kalian. Yang mudah-mudahan ada ibrah a.k.a pelajaran yang bisa sama-sama kita ambil dan jadi penambah kebaikan dalam diri kita yes #aamiin. Karena beberapa kali gue mengikuti entah itu kajian atau yang terakhir dalam sebuah sesi training, sang Ustadz atau Trainer membawa perumpaan antara Handphone dan Sinyal ini dengan gambaran akan diri kita dan kedekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Tuhan) atau yang selanjutnya bakal gue sebut koneksi.

Jika diibaratkan dengan sebuah Handphone, maka fisik/raga kita adalah casingnya. Yang kita dandani seelok-eloknya, kita pakaikan pakaian sebagus-bagusnya atau kita tutup serapat-rapatnya agar tidak tergores. Dan hati/batin kita adalah sim cardnya. Yang kita re-fill pulsanya, yang nggak pernah telat kita perpanjang paket datanya, yang darinya sinyal/koneksi bisa berfungsi.

Lalu pertanyaannya; 
Mana kah yang seringkali kita lebih perhatikan? Casing atau Sim cardnya? *sila dijawab sendiri yak*
Dan, mana kah yang kalau salah satunya nggak berfungsi tapi masih bisa dipakai? *mari sila dijawab juga*

Sudah sekitar empat hari Handphone gue lost signal, sebabnya adalahhhh karena kepintaran gue yang main upgrade upgrade aja tanpa tau akibatnya hahahahaa praktis gue cuma bisa memanfaatkan tethering wifi dari Handphone Ibu gue, yang kalau Handphone gue dibawa ke luar rumah dan gue janjian ketemu sama orang cuma bisa ngandelin telepati atau minggir-minggir SKSD sama abang ojek kemudian izin minta pulsa/tethering wifi. Hahahaha bikin malu aja ya :” (yang soal minta wifi sama abang ojek cuma sekali kok, mudah-mudahan nggak lagi-lagi ya hahaha)

Merepotkan? Jelas. Selain jadi nggak simple kalau mau ngehubungi orang, gue juga jadi punya PR kalau ada sesuatu yang harus gue update cepat. Hm, nggak dibawa ke tukang service, Va? Maunya gitu, tapi kalau gue jelasin nanti gue jadi pengin curhat. Repotnya abis itu gue jadi butuh sandaran, bukan sindirian -_-

Skip skip. Gue mulai ngawur. Intinya, Handphone tanpa sinyal itu apalah apalah banget MbakSist, MasBro. Dari situ gue baru betul-betul menghargai saat ia masih ada #apeu.

Ya, lebih kurang nya sama lah kayak diri kita. Dibanding casing, nyatanya kita lebih butuh koneksi. Sinyal. Mau sejadul apapun tampak luarnya Handphone itu, kalau sinyalnya kuenceng, dia tetap keren menurut gue. Daripada sebaliknya. Tapi nyatanya, mungkin bisa jadi, banyak orang di luar sana (iya, di luar sana, sanaan dikit, sanaan lagi. Yang pasti bukan kita ya wkekekee eh kok GR. Jangan-jangan malah kita termasuk nih #hiks) yang lebih mementingkan tampak luar. Fisik. Hatinya? Mbyarrr, ra keurus.

Makanya sering gue denger alesan begini; “gue lebih seneng dekat sama orang yang pintar, baik, shalih(ah)—berbagai hal yang ada kaitannya dengan koneksi, walau penampilannya biasa aja, daripada kece di luar tapi nggak nyambung diajak ngobrol”. Diajak ngobrol aja nggak nyambung, gimana diajak ke pelaminan kan? #duarr

Lalu gue mikir, iya juga ya. Mungkin ada beberapa orang di sekitar kita yang kita temui dengan kondisi kedua; Yes di luar, big NO di dalam.

Tapi jangan salah, dalam Islam (well, ini perspektif dari agama yang gue anut ya), Allah pun ngeliat manusia dari bagaimana hatinya, koneksi dengan Dia. Soal tampilan luar? Itu mah nggak perlu ditanya. Bakal otomatis. Orang yang baik secara batin, insyaAllah bakal tau bagaimana agar bagus pula secara lahirnya. Tapi yang sekadar bagus lahirnya? Allahu a’lam bishshawab. Balik ke diri kita masing-masing. Gue nggak mau tulisan gue terkesan men-judge orang lain. Nggak sama sekali lho ya, ini pun gue tulis untuk self note gue pribadi. Kalau kalau, mana tau gue lebih mengutamakan keelokan fisik, gue punya pengingat yang baik; diri gue sendiri.

Tapi gue hampir nggak pernah nemuin, seseorang yang baik koneksinya lalu amburadul casingnya. Kalau yang sebaliknya sih nggak usah ditanya. Ehehehe

Lah terus, gimana supaya koneksi kita selalu bagus? InsyaAllah, bakal gue bahas di tulisan selanjutnya ya. Tentang bagaimana cara “Menjaga Hati”, koneksi kita. InsyaAllah.

Intinya, di zaman sekarang, ketika pengaruh luar udah makin gila-gilaan. Back to Allah, balik ke Tuhan kita itu penting banget. BA-NGET. Harus kita yang ngendaliin keadaan, jangan sebaliknya. Hati itu mudah berbolak-balik lho. Kalau nggak dijaga dan diperhatiin baik-baik, gimana kita bisa sadar kalau pas lagi terbalik?

Cara termudahnya, dekatilah hal-hal yang bisa membuat koneksi kita senantiasa baik. Kalau belum bisa, berdoalah supaya Allah mampukan. Agar Allah dekatkan hanya dengan apa atau siapa aja yang bisa bikin koneksi kita 4G terus, kenceng terus. Percayalah, casing, kecantikan, fisik, atau apapun yang hanya bisa dilihat oleh kasat mata suatu waktu akan memudar. Tapi sinyal/koneksi, hati, yang walau ada di dalam, tapi sampai kapanpun, jika ia baik, maka pancarannya pun akan tetap terasa.





Cek terus koneksi kita, dan mudah-mudahan selalu ada di 4G ya. 5G atau 6G malah kalau bisa (:

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar