Karena Ini Tentang "Menjaga Hati"

“Ingatlah, bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa itu adalah hati (jantung)” – HR. Bukhari


Hello, Assalamu’alaykum!
Tulisan kali ini, gue dedikasikan untuk kalian yang udah baca tulisan gue yang (persis) sebelum ini :) oh, ada yang belum baca? Coba klik ini ya http://bit.ly/2rOkYZO

Bahwasanya (duileh, bahwasanya amat Va), gue menjanjikan untuk membuat tulisan lanjutan yang tema-nya, sama kayak judul lagu Yovie n Nuno. Yes, “Menjaga Hati”.

Biarkan, aku menjaga perasaan ini, huwooooo~ (you sing, you lose)

*matiin lagu*



Jadiiiiii, materi ini gue dapat minggu lalu, dari salah satu acara kajian yang gue hadiri. Temanya PAS banget menurut gue. PAS sama materi yang gue pos sebelumnya, PAS sama suasana hati gue, PAS juga mungkin buat kamu. Mudah-mudahan ada ibrah (pelajaran) yang bisa sama-sama kita ambil ya!

Sesuai dengan hadits yang gue sisipkan di awal tulisan ini, ternyata pada diri dalam setiap manusia ada bagian yang paling berpengaruh atas kebaikan/keburukan yang ada padanya. Dan, ya, bagian itu adalah hati (lebih tepatnya jantung, karena secara bahasa heart/kalbu merujuk pada jantung)—tapi kali ini, izinkan gue untuk tetap memakai kata “hati”, supaya lebih PAS dengan tulisan sebelumnya. Nggak perlu diperdebatkan, kan? Hehe

Seringkali kita mendengar ungkapan “tapi kita kan gak tau gimana hatinya”

Karena kalian boleh setuju sama gue (maksa), kalau “wajah diri” kita sebenarnya ada pada hati kita. Wajah (dalam arti sebenarnya) hanya sebagai representasi dari hati kita. Gimana enggak? Orang yang lagi ngerasa sedih, senang, marah dan lain sebagainya, secara otomatis akan tergambar dari wajahnya. Kalaupun wajah yang tampak tidak sesuai pada isi hati, percayalah, kepura-puraan itu tidak ada yang bertahan lama :)

Hati,
Juga merupakan bagian diri yang paling mudah untuk dibolak-balik. Saat ini benci, dua tiga hari ke depan malah sayang tak kenal pandang. Unik, misterius. Iya, itulah hati.

Yang ternyata, kita sebagai manusia sangat perlu untuk menjaganya. Tapi bagaimana?

Pada dasarnya, setiap manusia mengidamkan hati yang bersifat “Salaam” atau selamat. Yaitu hati yang terbebas dari syubhat (keragu-raguan) dan hati yang terbebas dari syahwat (nafsu). Tapi pada praktiknya, itu bukanlah hal yang mudah. Terlebih, cara kerja hati yang seringkali spontan (mendadak, tanpa mau mendengar “arahan” lebih dulu) yang kemudian menjadi tugas kita untuk menyiasatinya.

Dan ternyata, agar kita bisa memiliki hati yang selamat caranya sangat amat mudah lhooo. Mudah dan menyenagkan malah! Kita bisa banyak berISTIGHFAR, banyak membaca QURAN dan banyak membaca SHALAWAT. Walau kenyataannya, seringkali yang mudah itu biasanya akan disepelekan, tetap terasa tidak ringan agar tetap istiqomah. Nah inilah tantangannya, di sinilah reward berupa pahala diperebutkan. Menarik untuk diperjuangkan bukan?

Kita harus senantiasa berhati-hati, karena fitnah (ujian) yang ditawarkan pada hati sifatnya sangat halus. Pelan namun pasti. Ini yang sering tidak kita sadari. Fitnah berupa apa? Ya itu, syubhat dan syahwat. Misal, kita para muslimah tau bahwa berhijab merupakan KEWAJIBAN bukan pilihan. Tapi ada beberapa yang masih berpikir, “yang penting hatinya dulu yang berhijab”. Dan kalimat itulah yang terus menerus menjadi pembenaran baginya. Tanpa ia sadari, bahwa syubhat telah duduk tenang di hatinya. Halus sekali bukan? :”)

Patut kita ingat, bahwa “katanya” tugas syaitan zaman ini sudah sangat ringan. Betapa tidak? Tanpa perlu ia goda, banyak dari kita yang malah “sukarela” untuk menjerumuskan diri. Cara tersederhananya? Dengan berteman dengan orang-orang yang tidak baik. Teman-teman yang lebih senang mengajak kita pada maksiat daripada banyak mengingat (Allah), naudzubillaah. Maka tidak heran, bila Nabi pernah berkata bahwa seseorang itu tergantung bagaimana temannya.

Sampai akhirnya, pelan namun pasti, kita semakin tidak sadar bahwa hati kita mulai “mengeras”. Akibat apa? Akibat selalu mengikuti hawa nafsu, sulit menerima nasihat dan mudah meremehkan orang lain. Nah lho, jangan-jangan kita sendiri nih yang terindikasi “gejala-gejala” itu huhu

Dan Allah tidak memperbolehkan kita bersikap iri (juga sikap akibat penyakit-penyakit hati lainnya), kecuali; iri kepada mereka yang Allah beri waktu untuk membaca Quran siang dan malam juga iri kepada mereka yang membelanjakan hartanya di jalan Allah. Nah kalau itu sangatttt amattt diperbolehkan untuk kita merasa iri. Agar apa, agar kita nih mikir. Sadar, kalau mereka bisa, kenapa kita enggak? Tho, Allah kasih kesempatan yang sama untuk setiap hamba-Nya. Malah jadi iri yang berfaedah akhirnya.


Yuk, ikhwah fillaah, sahabat-sahabat tersayang.


Sama-sama kita jaga hati kita dari debu-debu iri, sombong, dengki, hasad yang siap menerjang tanpa kenal waktu. Gue pun nulis ini, to be honest ya untuk self-reminder. Ya sebenernya semua tulisan di blog gue self-reminder sih. Kan katanya nasihat yang paling sulit itu nasihat yang dialamatkan untuk diri sendiri hehe

Jadi, udah makin mantep untuk jaga hati masing-masing? Jangan sibuk jaga hati dia aja. Mending kalau dianya juga jaga hati kita #ehgimana

Akhirul kalaam temen-temen, ambil baiknya, buang yang kurang-kurangnya ya. Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan dalam penyampaian tulisan kali ini. Apalah daya, materinya menyinggung sumber-sumber dari agama, tapi masihhh aja nyelipin bercandaan :D




Semoga Allah selalu menjaga hati kita ya! 






-Dari saudarimu yang masih berjuang menjaga hatinya-






juga berjuang menemukan yang ingin dibantu jaga hatinya
#halah #punten

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar