Eits, Jangan GR Dulu!

Ada berbagai reaksi seseorang ketika dihadapkan dengan sebuah masalah (hmm atau tantangan?). Yang pertama, umumnya dia bakal segera berpikir bagaimana cara menyelesaikannya. Ini sih kayaknya reaksi spontan ya? Yang kedua, dia yang memilih diam sejenak, membiarkan dirinya tenang lebih dulu sambil meminta petunjuk pada Yang Maha Memberi Solusi lalu baru lah dia mencari tahu cara terbaik untuk “keluar”. Dan yang terakhir, dia yang memilih untuk meratapi apa yang sedang terjadi pada dirinya, bergalau ria, sibuk mencari pembenaran dan memosisikan dirinya sebagai orang yang paling menyedihkan di dunia.


Dan gue sendiri, pernah melakukan ketiganya (:


Well, gue jadi mau cerita. Beberapa tahun lalu, gue lupa tepatnya kapan, tapi rasanya sudah lumayan lama juga. Hmm mungkin sekitar tiga tahun lalu (I guessed). Waktu itu gue lagi di duduk di dalam angkot, dalam perjalanan ke rumah salah seorang kerabat untuk rapat sebuah agenda dan janjian di daerah Cibubur. Awalnya sih, waktu angkot yang gue naikin masih ngetem sambil nunggu penumpang penuh, semua berjalan normal. Ada kernet yang teriak-teriak dari luar buat manggil penumpang; yang entah sebenarnya mau ikut naik apa enggak, supir yang asyik memainkan gas mobil sambil merokok dan sesekali mengecek HP, termasuk Ibu-ibu yang sibuk mengatur posisi duduknya karena membawa banyak bawaan sambil menggendong anak.

Pat nam pat nam pat naaam!”— teriakan isyarat Pak kernet untuk kondisi angkot yang masih ada ruang untuk ditempati

Kurang lebih sepuluh menit ngetem, para penumpang mulai memenuhi tiap centi kursi angkot dan tanda-tanda angkot yang gue naikin akan berangkat semakin dekat (fyuh! Akhirnya!)

Semua masih berjalan normal, sampai beberapa menit kemudian, tiba-tiba “Mbak-mbak” yang duduk di depan agak serong kanan gue mengangkat Hpnya sambil marah-marah. Dengan bahasa daerah yang digunakan, sedikit-sedikit gue coba memahami apa yang sedang dibicarakan dengan lawan bicaranya.

Awalnya gue nggak mau kepo sama apa yang si Mbak obrolin. Tapi dari nada dan bahasa yang dia pakai, dia marah banget. Alhasil hampir seluruh penumpang di dalam angkot memerhatikannya. Berasa dapet hiburan gitu (haha, ups!)

Dari yang gue tangkap, si Mbak ini marah lantaran teman yang menghubunginya menanyakan keberadaannya dan alasan mengapa si Mbak nggak masuk kerja. Dan mungkin karena dia ngeh bahwa hampir semua mata tertuju padanya, si Mbak makin totalitas marah-marahnya, seolah-olah dia mengisyaratkan kalau “Aku nih lagi kesel banget lho! Kalian harus tau!”

Gue yang berniat mau baca buku aja, jadi malah kebawa asyik sama tingkah si Mbak dan ujung dari pembicarannya (memang kadang kepo sama urusan orang itu candu ya. Huhu). Yang pada akhirnya, si Mbak bilang kalau dia mau milih resign aja karena sudah tidak nyaman dengan boss juga pekerjaannya dan gaji yang tidak layak “menurutnya”.

Setelah pembicaraan via telepon mereka selesai, seketika angkot hening kembali. Dan para penumpang yang “terlibat” sebagai penonton—kayak gue barusan, kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing (well, kebanyakan langsung fokus lagi ke layar Hpnya, satu-dua memilih tidur sampai tujuan). But drama is not over yet, saudara-saudara! Si Mbak melanjutkan marah-marahnya! Sama siapa? Entahlah. Dia ngedumel, tapi suaranya kayak marahin orang se-angkot! Haha. Para penumpang yang awalnya empati pun malah kemudian jadi jengkel dibuatnya. Wajar lah ya, pasti merasa terganggu banget (dan mungkin masing-masing dari kami lalu memilih berdoa dalam hati supaya si Mbak cepetan turun)

Entah doa siapa di antara kami yang paling maqbul, nggak lama kemudian si Mbak turun. Dan kalian harus tau, rata-rata penumpang di dalam angkot itu seperti langsung memasang wajah yang kalau dibahasakan seperti “akhirnya turun juga!”. Sejurus kemudian beberapa orang spontan membahas kelakukan si Mbak. Duh, jadi topik utama banget deh! Gue cuma bagian mengamati, nggak ikut nimbrung ngomongin haha

Tapi abis itu gue langsung mikir. Ternyata, masing-masing dari kita “membawa” masalahnya sendiri-sendiri ya? Bedanya, sebagian ada yang memilih memendam, lantaran merasa bukan berada di situasi atau tempat yang tepat untuk memamerkannya, sebagian lainnya memilih hmm yaaa seperti si Mbak itu. Nggak peduli sekitarnya akan bereaksi seperti apa, yang penting dunia harus tahu kalau dia sedang ada masalah.

Kadang gue merasa jadi orang yang overthinking. Terutama kalau gue lagi ada di dalam angkutan umum. Di angkot, bis kota atau transjakarta. Ketika gue lagi pergi sendirian, gue sesekali asyik menebak-nebak apa yang sedang ada di pikiran Mbak di bangku belakang supir itu, Mas yang lagi bersandar di tiang bis atau Bapak yang duduk jauh di ujung sana. Nakal juga ya, malahan sibuk ngurusin orang hehehe.

Tapi kondisi itu pula yang bikin kebijaksanaan gue tetiba muncul. Bahwasanya, bukan cuma gue yang “punya masalah”. Bukan cuma gue yang saat itu mungkin sedang merasa kalut. Bukan cuma gue yang bisa jadi merasa mendapat ujian bertubi-tubi. Who knows, orang yang duduk di kanan-kiri gue mungkin nyatanya ada yang baru kehilangan orang tercinta, atau lagi bingung mikirin utang menggunung yang belum sanggup dibayarnya sedangkan si penagih udah menghantui siang-malam. Pokoknya jauh lebih menegangkan deh masalahnya!

Dan ke-overthinkingan gue coba ubah jadi rasa syukur yang baru. Karena ternyata, bukan-cuma-gue.

Rasanya gue kok cengeng banget kalau kemudian gue harus sedikit-sedikit mengumbar kegalauan gue. Sedikit-sedikit mata dunia harus tertuju pada gue dan memberi sedikit empati hanya supaya gue merasa dipedulikan.

Gue memang belum sekuat itu. Kadang gue masih suka ngeluh, masih suka mewek, masih suka ngadu ke orang-orang terdekat perihal apa yang lagi gue alamin. Dan selama masih dalam batas wajar dan demi meminta nasihat menurut gue nggak apa-apa kok! Tho sebagai makhluk sosial, ada sisi dalam diri gue yang merasa membutuhkan manusia lain even dalam bentuk dukungan moril. Kalian mungkin juga begitu, kan?

Menjadi nggak wajar kalau kita udah mulai “gelap mata” sama pertolongan orang lain. Karena biasa dapet empati lalu kita jadi pribadi yang terlalu bergantung dengan orang lain. Masalah sekecil semut menjadi sebesar gajah dalam kacamata kita. Kita menjadi orang yang seolah-olah menanggung beban terberat di dunia. Well hey! Nggak gitu, kok! Percaya deh, nggak akan ada beban tanpa pundak! Allah nggak akan nguji kita di luar batas kemampuan.

Jadi jangan keburu gede rasa. Jangan keburu GR kalau kita lah manusia yang paling diuji. Hehe

Dan Allah kan juga bilang untuk menjadikan Sabar dan Syukur sebagai penolong. Sabar menerima ujian dan bersyukur atas nikmat. Keduanya nggak bisa dilepas. Sudah menjadi satu kesatuan. Karena dalam setiap ujian ada nikmat yang Allah selipkan, insyaAllah.

Jadi, yuk, sama-sama kita saling mengingatkan dan menguatkan. Bukankah pahala itu ada di “tumbukan” pertama? Bagaimana sikap awal kita menghadapi sesuatu lah yang akan membawa kita ke “tahap” selanjutnya. Semakin terang kah jalan keluar, atau malah semakin redup dan terasa jauh? Pilihan ada di tangan kita.

Tapi gue berharap, semoga setiap ujian yang datang membuat kita menjadi pribadi yang semakin kuat dan bijak. Dan semoga Allah senantiasa mencukupkan rasa syukur dan sabar dalam hati kita supaya semua terasa ringan ya (: hamasah!

Nggak lupa gue mau ngucapin jazakumullah khairan katsiraaaan buat sahabat-sahabat gue yang sering jadi "pelarian" gue untuk meluapkan keluh-kesah gue. Yang sabar menjadi pendengar terbaik dan pemberi solusi terjitu yang Allah amanahkan untuk bikin hidup gue makin asik! Mudah-mudahan kalian selalu sehat dan Allah limpahkan kebaikan tak terhingga juga pahala yang terkira ya! Ana uhibbukum fillaah (:





**Anyway, ada yang nunggu lanjutan cerita “Jangan-Jangan Kita Jodoh”? Sabar dan stay tuned! Karena akhirnya bakal nggak terduga (hmm insyaAllah!) :D

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar