Jangan-Jangan Kita Jodoh (part 1)

Pagi itu, aku sedang tak ada kegiatan. Selain karena hari Sabtu, libur kantor, dan memang aku sedang malas beraktivitas. Kuputuskan untuk bermalas-malasan saja di kamar kost. Tho, akhir pekan. Siapa juga yang ingin bermacet-macet di jalan, karena semua orang memilih untuk mencari hiburan. Terlebih, aku tinggal di kota yang meski bukan akhir pekan pun akan tetap ramai. Ya, tebakan kalian benar. Aku tinggal di Yogyakarta.


CRING!


Kuraih Hpku setengah hati. Demi mencari tahu, siapa yang pagi-pagi sudah mengusik rasa malasku yang memang tidak biasanya. Alih-alih sekadar membaca pesan WhatsApp dan meniatkan untuk menon-aktifkan HP, namun nyatanya pesan itu “memaksaku” untuk segera bangkit dan bersiap

“Naura! Nggak lagi ngapa-ngapain kan? Temenin aku yuk. Aku mau cari percetakan buat undangan nikahan, soalnya Dik Aulia, adiknya Mas Salman ada urusan mendadak. Aku jemput 10 menit lagi ya!” –Emi

Well, Emi ini salah satu sahabat terbaikku selama aku tinggal dan mencari “penghidupan” dua tahun terakhir di kota Yogya. Dia asli Semarang, tapi setahun lalu, dia bersama keluarga intinya memilih untuk pindah ke Yogya. Sedangkan aku, as you know, anak rantau asli Jakarta yang bekerja dan “terlanjur” jatuh cinta dengan kearifan kota Yogya.

InsyaAllah bulan depan Emi akan menikah dengan Salman, pria asal Bantul yang bekerja di kota Yogya. Mereka bertemu lantaran kantor kami- aku dan Emi sempat bekerja sama dengan kantor tempat Salman bekerja dalam sebuah event akbar tahunan. Kantor Salman sebagai salah satu media partner kami. Tidak butuh waktu lama bagi Emi dan Salman untuk memutuskan menikah. Selain karena keduanya sudah siap, mereka juga pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Setidaknya, itu penilaianku, dari kacamata seorang sahabat.

Sebenarnya kami memang sedang dalam ikhtiar “menjemput jodoh impian”. Aku dan Emi rutin menghadiri kajian-kajian demi menambah ilmu agama kami, juga sebagai “modal” yang kami butuhkan untuk menghadapi pernikahan kelak. Yang tahunya, jodoh Emi yang lebih dulu “sampai”. Doakan saja aku menyusul, setelahnya. Hehe

Dan benar saja, sepuluh menit berselang Emi sudah sampai di kost-ku. Aku yang masih bersiap, tak sempat memoles wajah, segera keluar dan menghampiri Emi yang lebih memilih menunggu di ruang tamu kost ku.

“Kamu udah ada rencana mau ke percetakan mana aja, Em?” tanyaku beberapa saat setelah duduk di atas motor Emi dan memasang helm.

“Ada sih, referensi dari keluarganya Mas Salman. Nanti kita lihat-lihat dulu aja ya, yang bagus dan ndak terlalu mahal gitu lah.” Emi menimpali
 
“Eh, gimana sih rasanya mau nikah? Kamu mesti deg-degan kan? Lebih deg-degan mana, mau nikah atau naik kora-kora Sekaten? Hahaha”

“Ngawur kamu. Lha ya lebih deg-degan naik kora-kora Sekaten. Wong kalau naik itu rasanya kayak nyerahin nyawa kok. Kalau nikah kan, hmmm ahhh ndak usah aku ceritain nanti kamu mupeng Nau. Hahaha”

Perjalanan kami menuju satu ke satu percetakan lain hanya ditemani dengan pertanyaan-pertanyaan dan candaan receh kami. Meski, ada sedikit rasa sedih yang berselimut bahagia karena sahabat ku sebentar lagi akan menyudahi masa lajangnya.

Waktu menunjukkan pukul 12.00. Dan sebelum melanjutkan perjalanan kami ke percetakan ketiga, kami memilih melipir ke Masjid Agung untuk menunaikan salat Dzuhur. Salah satu hal yang paling aku syukuri bersahabatkan seorang Emi adalah, ia yang tak pernah lalai dalam lima waktunya. Hm mungkin itu pula yang membuatnya lebih cepat bertemu jodoh dibanding aku hehe

“Nau kamu laper ndak?”

“Ndak terlalu sih, tapi kalau kamu udah laper, mbok kita mampir maem dulu baru ke percetakan lagi. Piye?”

“Ndak sih, aku masih belum laper. Lanjut aja yuk. Nanggung, tinggal dua percetakan lagi nih.”

“Okaay!”

Sepertinya perjalanan kami cukup berakhir di percetakan ketiga saja, karena kurasa Emi sudah menemukan yang dicari. Dari segi desain, harga dan semuanya dia sudah merasa cocok. Selagi Emi berbincang dengan sang desain grafis percetakan, aku memilih mampir ke kedai sebelah untuk membeli minum. Baru saja aku ingin membuka pintu percetakan, seorang pria dari arah luar lebih dulu membuka pintu dan terlihat terburu-buru masuk ke dalam percetakan.

Dheg!

Dalam sepersekian detik, mataku bertemu dengan matanya. Dan tiba-tiba jatungku berdebar begitu keras. Sesegera aku memalingkan wajah dan keluar dari percetakan. Alih-alih “menenangkan” hati di kedai sebelah, aku malah terjebak dalam pertanyaan “siapa Mas itu?”

Tak lama pesananku beres dibuat, Emi menelepon dan memintaku untuk kembali ke percetakan karena urusan undangan sudah selesai. Akupun bersegera kembali masuk ke dalam percetakan dan lagi-lagi, aku berpapasan dengan Mas yang kutemui di pintu percetakan tadi. Dengan senyum ramah terkembang di wajahnya, Mas itu langsung menuju motornya dan berlalu begitu saja.

Aku yang kembali tergugu, semakin dibuat penasaran. Ya Allah, siapa Mas itu? Aneh sekali rasanya saat mata kami saling bertemu dan senyumnyaaaa, masyaAllah.

“Nau!” Emi menepuk bahuku, menyadarkanku dari lamunan sesaatku

“Eh iya, Em. Kamu sudah selesai? Mau langsung pulang atau mampir cari makan dulu?” jawabku dengan sedikit grogi, masih belum bisa menguasai diri

“Boleh yuk. Aku traktir yaa.”

“Wah ini sih nggak bisa ditolak haha”




-Hari Senin, jam istirahat di kantin kantor-

“Nau, aku mau minta tolong, boleh?”

“Boleh” jawabku singkat sambil menghabiskan semangkuk soto ayam makan siangku kala itu

“Ini, kamu tolong bantu kontak percetakan yang Sabtu kemarin itu kita datangi dong. Bantu follow-up aja, sekalian info sore nanti aku transfer DP cetak undangannya. Aku mau urus printilan-printilan lain yang belum kepegang nih. Mau yaaaaaaa? Oke yes!”

Tanpa menunggu persetujuanku, Emi langsung mencatatkan nomor kontak percetakan yang harus kuhubungi demi kelancaran hajat Emi, dengan nama kontak “Mas Percetakan”.

Sore hari sesampainya di kost, lepas mandi dan berganti pakaian, ku ambil Hpku untuk mengontak 
“Mas Percetakan”. Tapi seujurus kemudian, kulihat foto profilnya yang seakan tak asing bagiku. Dan ketika kuperbesar.....




To be continued

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar