Jangan-Jangan Kita Jodoh (part 2)

Sore hari sesampainya di kost, lepas mandi dan berganti pakaian, ku ambil Hpku untuk mengontak “Mas Percetakan”. Tapi seujurus kemudian, kulihat foto profilnya yang seakan tak asing bagiku. Dan ketika kuperbesar, kulihat ada wajah yang begitu ku kenal di dalamnya.


MAS MASYAALLAH!


Kupastikan salah satu orang yang terpajang di profil WhatsApp itu memang Mas yang kutemui di percetakan. Mas yang sempat membuat jantungku tak karuan. Hm, tapi milik siapakah nomor WhatsApp ini? Kemungkinannya ya, satu di antara lima orang yang terpajang di foto itu. Foto lima orang laki-laki sedang bergaya di depan lambang percetakan yang aku dan Emi datangi Sabtu lalu.

Dan kalian pun benar lagi, aku sibuk memperbesar tepat di bagian Mas MasyaAllah tergambar. Namun tak lama aku tersadar bahwa ada tugas penting yang seharusnya kutunaikan! Tanpa berlama lagi, segera ku kirim pesan singkat ke “Mas Percetakan”

Sore Mas

CRING!

Dua jam berselang, tepat di saat salam kedua salat Isya, notifikasi WhatsApp ku berbunyi. Aku menyempatkan untuk berdoa dan tadarus beberapa ‘ain, untuk kemudian membuka pesan di Hpku. Kulihat ada beberapa pesan masuk, salah duanya dari Emi dan “Mas Percetakan”. Sesuai tebakan kalian, aku lebih tertarik membuka pesan dari orang kedua, dikarenakan besarnya rasa penasaranku atas seseorang di balik “Mas Percetakan” itu. Apakah benar ia adalah Mas MasyaAllah itu, atau satu dari empat orang lain yang tergambar di foto profilnya.

Malam. Maaf ini dengan siapa dan apa yang bisa saya bantu?

Oh ya, Saya Naura. Temannya Mbak Emi yang Sabtu lalu mampir ke percetakan untuk cetak undangan nikahan. Kebetulan Mbak Emi sedang sibuk, jadi saya yang diminta untuk follow-up

Begitu tho. Mohon maaf sebelumnya Mbak Naura, chatnya baru saya balas karena tadi sedang ada urusan. Untuk undangan Mbak Emi, desain yang kami kirim sudah sesuai kan ya? Kalau sudah biar bisa langsung naik cetak, karena DP nya juga sudah kami terima.

Ndak apa2. Iya sudah, Mas. Sudah oke. Maaf, ini dengan Mas siapa ya namanya? Saya belum tahu.

Saya dengan Windu, Mbak Naura. Sepertinya Mbak Naura ini yang papasan sama saya di pintu percetakan ya? Saya lihat fotonya kok ndak asing. Salam kenal Mbak Naura.

Seketika jantungku terasa berhenti. M-m-m-Mas Windu? Jadi ini benar nomornya Mas MasyaAllah itu? Dan namanya Mas Windu? Ya Allah..

Karena begitu senangnya, akhirnya aku tahu nama Mas MasyaAllah itu, tanpa berpikir panjang langsung kuganti nama di kontakku, dari “Mas Percetakan” menjadi “Mas Windu Percetakan”. Haha, seperti tidak ada yang berubah ya. Hanya saja, kuselipkan nama asli di tengahnya.

Kalau tak salah duga, dari gaya bicaranya, sepertinya dia seumuran denganku dan Emi. Dua puluh lima tahun, atau bisa jadi di atas atau bahkan di bawahku. Obrolan kami malam itu hanya sebatas membicarakan kelanjutan undangan yang Emi pesan. Kurang lebihnya aku hanya sebagai penyampai antara Emi dan Mas Windu. Dan tepat pukul 21.30, kami sudahi perbincangan kami. Karena kurasa, sudah terlalu malam untuk berbincang dengan “orang baru”, lawan jenis pula. Pikiran usilku menyimpan banyak pertanyaan yang ingin kulemparkan ke Mas Windu. Tapi logika dan gengsiku kemudian mengalahkan semuanya.

Aku pun baru ingat bahwa chat Emi masih kuabaikan sejak tadi!
****

Hari-hari berlalu, seminggu setelah hari bersejarah itu, hari di mana aku akhirnya mengetahui nama sekaligus nomor Mas Windu, bisa dibilang menjadi hari “terakhir” kami berkomunikasi. Tersebab karena urusan undangan Emi sudah selesai, aku juga mulai disibukkan dengan hal lain yang harus aku urus di kantor. Mas Windu juga tidak pernah lagi mengirim chat kepadaku. Entah sibuk, atau memang karena sudah tidak ada hal yang (seharusnya) dibicarakan lagi.

Sesekali ingin rasanya aku bertanya tentang kabar Mas Windu, tapi apa mau dikata. Perasaan “takut ganggu” dan tidak ingin dicap sebagai perempuan centil, kuurungkan kembali niatku. Hingga tak kusadari, mulai saat itu, namanya selalu kuselipkan dalam doaku. Aku tidak main-main, iya aku memang sengaja mendoakannya. Mendoakan kebaikan untuknya, dan mungkin ada taqdir baik untukku bersamanya. Allahu a’lam.

15 Januari 2017, hari yang paling sakral dalam kisah percintaan Emi dan Salman akhirnya datang. Hari itu, akhirnya mereka berdua berganti “status”, dari single menjadi menikah. Kulihat wajah wajah yang begitu bahagia terpancar dari para mempelai, juga keluarga besar keduanya. Aku yang saat itu mendapat mandat untuk menjadi pendamping mempelai wanita, tak henti-hentinya menyeka air mata kebahagiaan. Aku, bahagia untuk Emi dan Salman. Tak lupa, doa-doa terbaik kupanjatkan dalam hati selama proses ijab kabul berlangsung, salah satu waktu mustajab untuk berdoa.

Seketika, wajah Mas Windu muncul dalam bayanganku, sesaat ketika doa “meminta jodoh terbaik” kuuntaikan. Dan tanpa sadar, bibirku mengembangkan senyum terbaiknya. Apa kabar dia? Baik-baik saja kah?

Nau!” Emi dengan setengah berteriak, memanggilku untuk ke meja makan khusus keluarga, selepas acara berakhir.

Di sana, sudah duduk dua keluarga besar Emi dan Salman yang tampak begitu akrab berbincang sambil menikmati hidangan yang tersaji, seakan sudah saling mengenal tahunan. Wajah Emi dan Salman yang begitu sumringah masih sangat segar terlihat, meski persiapan hingga menuju hari-H hampir semua mereka berdua yang urus. Mungkin itu yang disebut “keberkahan sebuah pernikahan”. Tidak ada lagi lelah, semua sudah berganti dengan bahagia. insyaAllah.

Tidak banyak yang berubah dengan persahabatanku dan Emi selepas Emi menikah. Hanya saja, intensitas pertemuan kami sedikit berkurang, terlebih jika di luar jam kantor. Karena kini, Emi sudah punya satu tanggung jawab baru yang harus dijalankan sebaik mungkin, yaitu sebagai seorang istri. Emi masih sering menemaniku hadir di kajian-kajian, meski datang dan pulangnya sudah tidak lagi berdua denganku, melainkan dengan Mas Salman, suaminya.

Dua bulan berlalu, Mas Salman melalui Emi menyampaikan bahwa dia memiliki seorang kerabat yang katanya sudah siap menikah dan ingin taaruf denganku. Katanya sih, sudah melihat fotoku yang ditunjukan oleh Mas Salman lewat akun media sosialku. Dan si lelaki tertarik untuk berproses denganku. Mas Fikri namanya.

Kami pun bertukar CV, dan merencanakan pertemuan dengan didampingi oleh Emi dan juga Mas Salman, untuk saling “melihat”. Sejauh yang kulihat dari CV yang diberikan kepadaku, tidak ada masalah. Sepertinya aku akan berkenalan dengan laki-laki baik. Mengapa tidak dicoba?

Sambil terus istikharah, memohon kepada Sang Pemilik Hati, aku terus bermohon yang terbaik. Jika memang dia, maka mudahkanlah segala sesuatunya. Selalu dan selalu itu yang aku mohonkan. Hingga hari pertemuan yang telah disepakati tiba, kami bertemu dan membicarakan banyak hal, terutama tentang visi misi pernikahan juga tentang pernikahan itu sendiri. Tentang peran seorang istri dan suami.

Namun ternyata, urusan jodoh itu memang rahasia Allah. Seminggu setelah pertemuan itu, aku mendapat kabar bahwa Mas Fikri dijodohkan dengan wanita lain, anak kerabat orang tuanya. Dan tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Sebagai bentuk bakti, Mas Fikri tidak bisa menolak dan dia hanya bisa meminta maaf bahwasanya tidak bisa melanjutkan proses yang sedang kami jalani.

Bagaimana perasaanku? Alhamdulillah aku bisa menerima keputusan itu dengan baik. Sederhana saja, seperti yang selalu kumohonkan, “jika memang dia, maka mudahkanlah.” Dan ternyata, bukan dia orangnya. Tidak ada alasan untukku berlarut, karena pilihan Allah pasti jauh lebih baik.

Seketika aku kembali teringat dengan Mas Windu. Sudah cukup lama juga aku tak mendengar kabarnya. Dan tiba-tiba, kenapa rasa ingin bertemu dengannya begitu kuat. Maka sore itu, hari Jumat, selepas jam kantor, aku niatkan untuk sekadar “lewat” di depan percetakan tempat dia bekerja, dengan sedikit harapan dan GR luar biasa agar bisa melihatnya. Iya, rasanya dengan melihatnya saja sudah cukup bagiku.

Niat tinggallah niat. Aku yang selepas kantor merasa tidak enak badan, memilih untuk langsung pulang saja. Aku juga tidak tahu, kenapa demam datang begitu saja. Tapi, saat ingin kubelokkan motorku di gang masuk menuju kost ku.....






To be continued...

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar