Kenangan yang Tersisa

Sudah hampir dua jam gue biarin laptop ini menyala dan hapus-ketik-hapus mode, semacam bingung mau nulis apa. Mungkin karena hampir tiga minggu ini gue nggak “setor” tulisan. Well, pertengahan bulan Februari sampai awal Maret ini gue lagi ngerasa “crowd” banget. Bukan soal kerjaan, tapi soal perasaan. Iya, gue lagi terserang virus galau.

But wait, sebelum kalian mengartikan lain yang gue maksud galau ini, gue bakal cepet-cepet meluruskan. Pertengahan bulan Januari kemarin, Kakak tertua Ibu gue tiba-tiba datang ke rumah dengan diantar salah satu anaknya. “Mau mampir,” katanya. “Sekalian ini, ada baju, baru pakai sekali. Tapi buat Eva aja deh.” Beliau pun menyerahkan sebuah baju gamis berwarna hitam, yang memang belakangan gue lagi pengin banget punya. Allahu a’lam, beliau malah kasih. Gue seneng dan baju itu jadi sering banget gue pakai kalau gue pergi, mengalahkan “baju-baju pergi” gue lain yang tersimpan rapi di dalam lemari.

Qadarullah, dua minggu kemudian, gue dapat kabar beliau masuk rumah sakit. Fyi, beliau memang sudah cukup lama mengidap diabetes dan sebab masuk rumah sakit yang terakhir, katanya karena sesak napas. Singkat cerita, keadaannya sempat mengkhawatirkan dan dipindah ke ruang ECU. Tapi Alhamdulillah, beberapa hari kemudian membaik dan kembali ke ruang perawatan.

Gue dua kali berkesempatan menengok saat beliau sedang mendapat perawatan intensif di ECU. Dengan berbagai alat medis yang melekat di tubuhnya, gue coba mengelus tangan beliau dan sesekali mengajaknya berbicara dengan wajah sumringah, yang gue harap bisa sedikit memberi semangat kepada beliau untuk lekas pulih.

Persis tiga minggu rawat inap, dokter pun menyatakan kalau beliau sudah diperbolehkan pulang. Walau untuk duduk saja beliau masih belum sanggup, tapi keputusan dokter ini seperti “angin segar” untuk kami, keluarganya.
 “Seindah-indahnya rencana manusia, rencana Allah lah yang terbaik”

Beliau pun pulang.
Bukan hanya ke rumah tinggal, melainkan pulang ke haribaan-Nya.

Keesokan hari, tanggal 21 Februari 2018 setelah beliau diperbolehkan pulang, sekitar pukul sebelas pagi, dengan nada lirih sehabis menutup telepon, Ibu gue menghampiri gue yang tengah santai selepas memasak. “Mama Yoyoh (sebutan untuk Kakak mama, red) meninggal Va. Ya Allah...”

Dengan tetap mencoba tenang walau hati rasanya nyeri, gue pun sigap bersiap dan mengajak Ibu untuk segera berangkat ke kediaman almarhumah di daerah Cibubur. Sepanjang perjalanan dalam taksi Ibu gue terlihat beberapa kali mencoba menenangkan diri, sesekali menyeka air mata.

Gue mengikuti beberapa proses pengurusan jenazah hingga ikut ke pemakaman (hal yang sangat jarang gue lakukan ketika ada kerabat yang berpulang), biasanya gue merasa cukup dengan “mendampingi” jenazah dengan melantunkan ayat-ayat suci di dekatnya.

Pelayat silih berganti hadir untuk melihat wajah almh dan mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. MasyaAllah, banyak sekali. Salah satu bukti nyata, yang Allah persaksikan bahwa almh adalah orang baik semasa hidupnya. InsyaAllah.

Rasanya gue lupa kapan gue merasa kehilangan yang “se-dalam” itu. Ketika gue menyaksikan langsung tubuh almh, seseorang yang gue kenal dekat lengkap dengan tawa dan marahnya ke dalam liang lahat, seketika itu juga gue membayangkan bagaimana kalau itu adalah diri gue. Tubuh tanpa nyawa yang beberapa saat setelah para pelayat melangkah pergi akan langsung dimintakan pertanggung-jawabannya.

Apakah kelak, amal gue cukup untuk dihadiahkan doa-doa terbaik dari orang-orang yang mengenal gue sehingga Allah mengampuni gue dari segala bentuk azab kubur dan neraka-Nya, atau malah sebaliknya?

MasyaAllah :”(

Dan gamis hitam pemberian almh, nyatanya adalah “pemberian terakhir” beliau buat gue. Seperti sebuah pertanda, yang dengan berbahagia gue terima. Sebuah kenangan yang tersisa :”)


InsyaAllah sekarang Mama Yoyoh jauh lebih berbahagia dalam dekapan-Nya dan semoga kita dipertemukan lagi dalam taman Surga-Nya ya, Ma. Allahummaghfirlahaa.. (:

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar