Risiko Jatuh Cinta

Kata orang, jatuh cinta itu berjuta rasanya. Nggak peduli mau siang, malam, terik, hujan, laper atau ngantuk, akan selalu ada ruang, pada otak untuk memikirkannya, juga pada hati untuk merasakannya. Tapi, apa iya jatuh cinta akan selalu begitu? ‘Selalu begitu bagaimana, Va?’ Ya begitu, yang enak-enak. Yang indah-indah. Sampai-sampai kita rela aja gitu untuk “menyisihkan waktu” walau sesibuk apapun untuk tidak meninggalkannya meski hanya dalam pikiran.


Begitu?

Ya, kalau udah bicara soal jatuh cinta mah, orang dulu bilang t*i kucing rasa cokelat. Tapi pertanyaannya, siapa yang pernah nyobain t*i kucing? *Blah*

Mereka, orang-orang yang terjangkit virus merah jambu itu tau nggak sih, kalau jatuh cinta bukan cuma perkara yang seneng-senengnya aja? Sama halnya kayak hubungan sebab-akibat yang pada akhirnya mengantarkan kita sama yang namanya “risiko”. Kita laper, risikonya ya harus makan. Biar lapernya ilang. Kita merasa bodoh, risikonya ya harus belajar, harus rajin. Biar bodohnya pergi. Jatuh cinta pun sama. Ada risikonya. Pertanyaannya, udah siap belum?

Banyak yang salah kaprah dengan situasi “jatuh cinta”. Banyak yang akhirnya jadi lemah dan seolah dibudaki oleh perasaannya. Mengabaikan hal-hal penting di sekitarnya hanya karena jatuh cinta. Terus, kalau cinta nya patah karena jatuh pada landasan yang salah, dia pun terpuruk, bahkan bisa jauh lebih parah.

Padahal, seharusnya nggak begitu. Jatuh cinta, sebagaimana fitrahnya, ia haruslah dijunjung setinggi-tingginya, dengan niat sebaik-baiknya. Dan risikonya hanyalah; harus mau berjuang sekuat-kuatnya. Karena makna berjuang berarti mau berkeras untuk bisa sampai ke tujuan yang baik. Yang berfaedah.

Dan nyatanya, jatuh cinta yang paling tinggi kelasnya bukan lagi jatuh cinta kepada makhluk. Tapi pada yang duduk di singgsana Arsy. Bukan pada ciptaan. Melainkan pada pencipta-Nya. Yang kemudian melahirkan risiko untuk berjuang sekuat mungkin untuk bisa menjadi yang layak dicinta kembali.

Jatuh cinta akan selalu membuat kita merasa ketergantungan. Kalau enggak, ya berarti cintanya belum jatuh. Masih sebatas ucapan, belum jatuh. Belum pada level pembuktian.

Jangan bodoh kalau jatuh cinta. Apalagi dengan objek yang salah. Cinta nggak se-murah itu.

Mau ngelakuin apa aja, tapi dengan risiko yang cuma bikin nangis darah. Habis itu merasa diri jadi yang paling nggak punya arah.

Gue merasa gue telat jatuh cinta sama Tuhan gue. Allah Yang Maha Segala. Gue merasa gue lebih dulu nyemplung untuk nyicipin rasanya jatuh cinta sama ciptaan-Nya yang udah jelas mau terlihat hebat segimana pun, dia tetap lemah di hadapan-Nya. Daripada sama Dia yang udah teramat baik kasih gue sesuatu yang nggak ada seorang pun yang bisa; hidup dengan makna.

Menyedihkan ya? Memang.

Karena rasanya, inilah jatuh cinta dengan risiko paling punya harga. Risiko yang nggak bikin hidup sia-sia. Gue tau, layaknya pertandingan, gue lagi berjuang untuk berlomba-lomba bersama miliaran manusia lain supaya bisa memenangkan cinta-Nya. Garis finish terbaik sepanjang masa.


Akhirnya gue mengukur diri gue sendiri. Sejauh mana gue jatuh cinta sekarang ini? Apa gue udah merasa ketergantungan? Apa gue udah berjuang? Kalau udah, sampai di titik mana? Apa udah di titik nggak bisa tidur karena rindu? Rela bangun tengah malam demi bisa duduk bersimpuh untuk bercengkrama romantis di atas sajadah yang menghampar? Atau sigap bersegera saat panggilan-Nya bergema?


Maka gue mengingatkan pada diri gue. Kalau memang harus jatuh cinta, jatuh cinta lah dengan benar. Dengan yang bisa membuat kita tegar, layak diharapkan dan nggak pernah mengecewakan ketika dijadikan tempat bergantung. Jatuh cinta lah dengan baik. Dengan yang bisa membuat kita sungguh-sungguh, meski risikonya harus jadi lebih patuh. Yang membiarkan kita meminta sebanyak-banyaknya dan tak akan pernah mengeluh (:

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar