Mengeja Kata [1]

Yang pernah jatuh, akan lebih berhati-hati dalam melangkah di kemudian hari. Yang pernah patah hati, akan lebih berhati-hati dalam menitipkan cinta pada yang terpuja. Karena jika luka tak memberimu pelajaran apa-apa, mungkin kamu memang bukan seseorang yang pandai membaca makna.

Jangan bilang bergerak maju itu sulit, bila usahamu saja hanya sebatas niatan. Bukankah seorang bijak pernah berkata bahwa seribu langkah selalu dimulai dari satu langkah kecil namun pasti?

Seringkali aku mendengar cerita dari seorang sahabat yang lagi-lagi terjebak dengan masa lalunya. Terlalu indah katanya. Sampai-sampai ia lupa, bahwa seindah apapun itu, tetap saja ia hanyalah masa lalu. Yang seharusnya dibiarkan saja tetap di sana, menjadi kenangan yang tak perlu lagi diusik, sebab kita sudah bersiap untuk sesuatu yang bisa jadi sudah sangat siap menggenggam tangan kita dan membawa kita pada seindah-indahnya masa.

Ah, dasar diriku ini. Tahu apa soal isi hati orang lain?

Tho, terkadang hatiku saja masih suka berselisih paham. Perihal mempertahankan atau membiarkannya pergi begitu saja? Ia masih sering bertengkar, perihal menjauh atau “tunggu dulu, sebentar lagi saja, biarkan kali ini semesta bekerja lebih keras untukmu.”

Sampai akhirnya, aku membiarkan pertahananku runtuh. Tersedu sejadi-jadinya, berbisik keras pada bumi yang hening. Karena aku malu, lagi-lagi, bila aku mengingatnya, kala itu bukan ridho-Nya lah harapan terbesarku.

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar