Tak Sengaja Dapat Pahala



Gengs, kalian setuju nggak kalau setiap manusia secara fitrahnya terlahir sebagai pribadi yang baik? Kalian harus jawab setuju, lho. Kalau enggak, kita nggak temenan! *lah *dorr

Tapi, bener kan? Secara, kita semua diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Sempurna. Dan perihal kesempurnaan, pasti berkaitan dengan hal-hal yang baik, yang indah, yang mengagumkan. Kalau pun, pada akhirnya perjalanan hidup membuat seseorang menjadi pribadi yang berkebalikan dari “fitrah”nya, sudah barang tentu, pasti itu efek dari faktor di luar dirinya yang nggak mampu dia kalahkan.

Gue pribadi selalu kagum sama orang yang berkepribadian baik. Yang betul-betul baik, bukan cuma sekadar “terlihat” baik lho ya. Dan nggak jarang, pada akhirnya gue jadi terinspirasi dan ngejadiin dia sebagai patokan standar baik pada hal tertentu yang lagi gue usahain. Misal, gue punya temen. Sebutlah dia Mawar. Nah, si Mawar ini dalam beberapa kali kesempatan gue ketemu sama dia kok ya baik banget gitu orangnya. Ramah, murah senyum, lembut perangainya. Dan hal itu terbukti ketika gue ngeliat dia ketemu temen-temennya yang lain. Gimana mereka nih temen-temennya juga melakukan hal yang sama ke dia.

Yang di mana, gue selalu yakin kalau bakal berlaku rumus :
>>  Aksi = Reaksi  <<

Dan dari apa yang temen-temennya tunjukkin itu, ya karena si Mawar ini PASTI melakukan hal yang sama ke mereka. Dari situ gue belajar, gimana gue juga harus bisa jadi pribadi yang kayak gitu. Gue secara nggak langsung, terinspirasi sama sifat-sifat baiknya. Tho, dalam agama gue sendiri, kita sangat diperbolehkan mengambil pelajaran baik dari sekitar kita, termasuk orang-orang terdekat kita. Kan, efek baiknya juga buat kita sendiri. Terinspirasi lho ya, bukan berarti pengin jadi “si dia”. Karena pasti setiap orang punya ke-khas-annya sendiri-sendiri.

Lalu kalian tau apa yang jadi lucu akhirnya?

Ternyata, pada sebuah kesempatan ngobrol yang lebih dalem sama Mawar, dia mengungkapkan gimana dia (taunya) tersinpirasi sama beberapa hal baik yang dia nilai ada di diri gue. Allahu a’lam. Padahal, gue sendiri nggak menyengaja ngelakuin itu supaya dinilai baik sama dia, apalagi sampai bikin dia terinspirasi segala. Enggak. Ya, semata-mata karena menurut gue itu baik, ya gue lakuin. That’s it.

Diam-diam kita saling mengagumi satu sama lain. Diam-diam, gue dan Mawar saling terinspirasi. Gue atau pun dia, taunya, nggak sengaja menginspirasi satu sama lain.

Lucu ya, bagaimana “teladan” itu bekerja?

Dan hal ini nggak gue alamin sekali dua kali aja, masyaAllah-nya sering. Kalian juga pasti pernah ngalamin kayak gini, kan? Karena gue sendiri mikirnya, “kalau dia bisa, kenapa gue enggak?”. Padahal itu hal baik, bahkan mungkin bernilai pahala dan bonusnya bisa jadi pemberat amal di akhirat nanti. Allahu a’lam.

So, yang mau gue simpulkan di tulisan gue kali ini adalah : teruslah berbuat baik dan menjadi baik. Karena kalau “ngandelin” pahala kita sendiri sih kayaknya bakal kurang buat bisa nebus “tiket Surga”. Tapi bayangin, kalau dengan kita berlaku baik dan kebaikan itu menginspirasi orang lain, tanpa sepengetahuan kita, dan kebaikan itu jadi wasilah seseorang terhindar dari dosa. MasyaAllah nggak sih?

Nggak perlu teriak-teriak “gue orang baik lho”, tapi kenyataannya kesehariannya nggak nunjukin begitu. Langit nggak perlu ngejelasin kalau dia tinggi, kan? Benar lah kalau ada ungkapan bahwa kita adalah siapa sahabat terdekat kita. Karena, ya, hukum alamnya memang begitu. Kita, secara sadar atau khilaf, akan saling menginspirasi satu sama lain. Dan tau-tau, dapet pahala. Wah!

Eva Saraswaty

Phasellus facilisis convallis metus, ut imperdiet augue auctor nec. Duis at velit id augue lobortis porta. Sed varius, enim accumsan aliquam tincidunt, tortor urna vulputate quam, eget finibus urna est in augue.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar